Dompu, koranlensapos.com – Peternakan di Kabupaten Dompu hingga kini masih didominasi cara tradisional. Hewan diumbar atau dilepasliarkan agar mencari makan sendiri.
Dampak buruknya sangat banyak. Baik bagi pemiliknya maupun bagi hewan ternak itu sendiri. Ternak hilang, mati karena sakit atau akibat tali lehernya tersangkut di atas pohon kerap kali terjadi. Belum lagi dampak lain seperti kecelakaan lalu lintas akibat ternak berkeliaran di jalan raya dan memakan tanaman di ladang orang lain.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu, Muhammad Abduh membenarkan hal tersebut. Disebutnya sistem ekstensif tradisional mencapai sekitar 75 persen. Sedangkan sistem perkandangan intensif hanya sekitar 25 persen saja.
“Sebenarnya sistem intensif lebih menguntingkan dibandingkan sistem ekstensif tradisional,” sebutnya.
Kadis mengatakan hewan ternak yang dipiara dalam perkandangan intensif akan mendapatkan asupan nutrisi yang lebih baik ketimbang diumbar. Hal itu berdampak positif pada peningkatan bobot ternak.
“Pola intensif akan lebih menguntungkan secara ekonomis. Bobot hewan bisa mencapai 300 sampai 500 kilogram. Bisa tiga kali lipat harganya,” ujarnya.
Untuk itu, Kadis mengimbau peternak agar merubah pola peternakan dari ekstensif tradisional menuju intensif modern yang menguntungkan.
Bimbingan teknis sistem fermentasi dan silase yang terus dilakukan Disnakeswan Dompu di seluruh kecamatan juga menjadi upaya terbaik mengatasi persoalan pakan ternak. Limbah pertanian yang melimpah ruah di daerah ini dapat diolah menjadi pakan ternak berkualitas tinggi. (emo).
