Jakarta | Lensa Pos NTB – Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) bidang Penegakan Keadilan dan Rekonsiliasi, Irjen Pol (Purn) R. Ahmad Nurwahid, melakukan kunjungan silaturahim ke Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Kunjungan tersebut dilandasi kesamaan persepsi dan tujuan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) unggul serta peran strategis ormas dalam pembangunan nasional. “Ini kunjungan informal, tetapi karena sudah ada satu persepsi, kesannya menjadi seperti formal. Alhamdulillah saya bisa berkunjung ke LDII,” ujar Ahmad Nurwahid.
Ia menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari tugas Kemenko PMK dalam mendukung program strategis pemerintah, khususnya di bidang pembangunan manusia dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Menurutnya, sejumlah program prioritas Kemenko PMK ternyata telah lebih dulu diimplementasikan oleh LDII di lapangan. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah penguatan sinergi dan kolaborasi yang lebih terstruktur.
“Program-program yang dicanangkan Kemenko PMK banyak yang sudah dijalankan LDII. Tinggal bagaimana kita memperkuat sinergi agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, mantan Direktur Deradikalisasi BNPT RI itu juga menyoroti pentingnya inklusivitas, terutama dalam komunikasi sosial. Ia mengakui masih adanya stigma negatif terhadap LDII di ruang publik yang perlu disikapi melalui pendekatan dialog dan sosialisasi berkelanjutan, khususnya di era digital.
“Masih ada stigma yang berkembang di masyarakat. Karena itu, komunikasi sosial yang inklusif dan berkesinambungan sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan perspektif teori sosial, perubahan terhadap stigma dan tatanan sosial yang telah mengakar memang membutuhkan waktu panjang. Namun, dengan pendekatan yang terukur, inklusif, dan berkeadilan, proses tersebut dapat dipercepat tanpa menimbulkan gesekan sosial.
Lebih lanjut, Ahmad Nurwahid menekankan pentingnya membangun paradigma yang meniadakan dikotomi antara keagamaan dan kebangsaan. Menurutnya, nilai-nilai agama sejatinya mengandung semangat kebangsaan yang mampu memperkuat persatuan di tengah pluralitas masyarakat Indonesia.
“Ketika kita bicara agama, di dalamnya juga terkandung nilai kebangsaan. Inilah kekuatan Indonesia yang membuat bangsa ini tetap inklusif di tengah keberagaman,” tegasnya.
Ia optimistis, dengan berlandaskan Pancasila, silaturahim, serta sinergi seluruh elemen bangsa, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, terutama melalui peran aktif generasi muda.
Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menyambut baik kunjungan Staf Khusus Menko PMK tersebut. Ia menilai kehadiran pemerintah membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara LDII sebagai kekuatan sosial masyarakat dengan pemegang otoritas negara.
“Kami adalah kekuatan sosial yang perlu bergandengan tangan dengan pemilik otoritas. Sinergi ini penting agar pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
KH Chriswanto berharap kunjungan ini menjadi awal kerja sama berkelanjutan, khususnya dalam program pembinaan kebangsaan dan penguatan wawasan nasional, termasuk Sekolah Virtual Kebangsaan yang selama ini melibatkan berbagai lembaga negara. “Kami sepakat untuk terus memperkuat sinergi demi pembangunan SDM yang inklusif, berkeadilan, dan berkarakter kebangsaan,” pungkasnya. (TIM)
