Fantastis! Lukisan SBY Laku Rp6,5 Miliar, Nama Low Tuck Kwong Jadi Sorotan

Lensa Pos NTB, Jakarta – Lelang lukisan karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam perayaan Imlek yang digelar Partai Demokrat, mendadak menjadi perbincangan publik. Lukisan berjudul Kuda Api itu terjual dengan harga fantastis Rp6,5 miliar.

Lelang dibuka dari harga Rp200 juta dan berlangsung dinamis. Sejumlah tokoh ikut menawar, termasuk Deddy Corbuzier yang sempat mengajukan angka Rp1 miliar.

Penawaran terus melonjak, mulai dari Rp1,1 miliar hingga Rp3,8 miliar, sebelum akhirnya ditutup di angka Rp6,5 miliar oleh perwakilan orang kepercayaan taipan Low Tuck Kwong.

Nama Low Tuck Kwong pun kembali menjadi sorotan. Pengusaha kelahiran Singapura itu dikenal sebagai pemilik PT Bayan Resources Tbk dan masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia, bahkan disebut berada di peringkat atas daftar orang terkaya dunia. Ia telah lama berkiprah di Indonesia sejak 1972, mengembangkan bisnis di sektor pertambangan dan energi.

Lukisan Kuda Api sendiri memiliki makna simbolik, bertepatan dengan Tahun Kuda Api dalam penanggalan Tionghoa. Seluruh hasil lelang disebut akan disumbangkan untuk membantu masyarakat prasejahtera, khususnya dari kalangan etnis Tionghoa.

Di balik angka miliaran rupiah yang memukau, muncul pula diskursus publik yang lebih luas: tentang distribusi kekayaan dan pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Low Tuck Kwong membangun kerajaan bisnisnya melalui sektor tambang—bidang yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional, namun juga kerap memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat sekitar.

Bagi sebagian kalangan, Rp6,5 miliar mungkin angka besar. Namun bagi konglomerasi tambang raksasa, nominal itu dinilai tak seberapa dibandingkan keuntungan industri yang dihasilkan setiap tahunnya. Di sisi lain, aksi filantropi melalui lelang karya seni juga dipandang sebagai bentuk kontribusi sosial dari kalangan elite.

Peristiwa ini pun bukan sekadar soal lukisan dan angka fantastis. Ia membuka kembali percakapan tentang relasi antara kekuasaan, kekayaan, filantropi, serta harapan masyarakat agar sumber daya alam Indonesia benar-benar memberi dampak luas bagi rakyatnya sendiri. (TIM)

Pos terkait