Gerbong Bupati, Gerbong Wakil Bupati

Oleh : Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.)
Pengamat Sosial Politik

Lensa Pos NTB, OPINI – Untuk memulai tulisan ini saya ingin mengutip eulogi (pidato mengenang) Presiden Bush untuk almarhum Dick Cheney, wakil presiden (wapres)-nya selama dua periode. Dick Cheney adalah wakil presiden Amerika Serikat pada periode 2001 – 2009. Bush bercerita ia sempat kewalahan dan kebingungan pada saat memilih calon wakil presiden. Cheney juga ikut membantu memberi pertimbangan pada beberapa nama. Tentu, ada banyak kriteria yang
dipertimbangkan. Integritas dan loyalitas adalah dua hal utama. Tapi, kriteria khusus Bush adalah: Above all, I wanted someone with the ability to step in to the presidency without getting distracted by the ambition the seek itu.”, Bush ingin orang yang jadi pendampingnya adalah figur yang tidak berambisi untuk mencari jabatan itu. la tidak mau presidensinya terdistraksi dan bergesekan dengan wakilnya yang juga punya ambisi untuk menjadi presiden. Singkat cerita, Bush tidak menemukan sosok dengan kriteria itu.

Menjelang deadline, ia akhirnya memilih Cheney. Ternyata, kata Bush, “realized the best choice for the vice president was the man sitting right in front of me. (Saya menyadari ternyata orang yang paling tepat untuk menjadi wakil presiden saya adalah orang yang duduk tetap di depan saya (Cheney). Tapi, ketika Bush menyampaikan itu pada Cheney, Cheney justru memberi banyak alasan agar Bush tidak memilihnya untuk menjadi wapres,” He […] giving mea compelete rundown of all the the reasons I should not choose him.”

Dalam konteks politik dan perebutan kekuasaan hari ini, sosok seperti Cheney sudah hampir punah. Hari ini orang-orang justru berlomba-lomba ingin dipilih untuk menduduki puncak kekuasan. Bahkan, ketika tidak pilih pun mereka akan mencari berbagai cara; saling gesek, menghabisi, dan menjatuhkan demi mencapai posisi tertinggi. Hari ini orang-orang mencari muka dan sampai menjilat agar dipilih. Sikap tersebut adalah sifat kesetanan dan tidak tahu diri. Saya justru tertarik dengan sikap dan integritas Cheney yang tahu diri”.

Hari ini banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi wakil: wakil presiden, wakil gubernur, wakil bupati, wakil ini dan itu. Mereka berangkat dengan ambisi politik yang menggebu-gebu. Dan, ketika berhasil mencapai posisi wakil, mereka menghantam bosnya untuk mencapai posisi puncak. Mereka menggesek gubernur dan bupati-nya meraih posisi puncak. Sang bos pun tidak tinggal diam. Maka terjadilah perang dingin.

Tahun pertama mereka masih akur, masuk tahun kedua sudah tidak saling tegur. Masing-masing menyusun strategi untuk menjadi lawan antara satu sama lain. Rakyat jadi korban. Program pemerintah tidak jalan. Pertumbuhan ekonomi mandeg. Kenaikan yang tidak signifikan justru dibangga-banggakan. Energi yang seharusnya dipakai untuk bekerja malah habis untuk saling mengawasi dan menjatuhkan. Rapat-rapat bupati dan wakil bupati hanya menjadi formalitas. Para bawahan, kepala dinas, kepala OPD bingung menentukan arah karena pimpinan sibuk mencari dan mempertahankan pengaruh.

Apa akibatnya? Pelan-pelan kepercayaan publik ikut terkikis. Janji-janji yang dulu diucapkan saat kampanye terdengar semakin jauh dari kenyataan. Tapi masyarakat yang cerdas tidak mudah mempercayai kampanye dan janji-janji semu dan pasangan pemimpin yang masing-masing punya ambisi. Masyarakat yang berharap perubahan justru menyaksikan tarik-menarik kepentingan didalam pemerintahan.

Teladan dari Cheney adalah oase sikap dan integritas di tengah rimba demokrasi dan politik kekuasaan hari ini. Sikap tahu diri dalam politik dan kekuasaan itu sangat dibutuhkan. Sikap tahu diri itu sederhana, tetapi tidak semua orang mampu melakukannya. Banyak orang ingin berada di lingkaran kekuasaan, tetapi sedikit yang siap menempatkan diri dengan tepat.

Jabatan wakil seharusnya dipahami sebagai posisi pendamping, bukan batu loncatan untuk menyalip pemimpin yang dipilih bersama. Ketika seseorang sejak awal datang dengan ambisi tersembunyi untuk mengambil alih, hubungan kerja pasti retak. Kerja sama berubah menjadi kecurigaan. Padahal dalam sistem pemerintahan, hubungan antara pemimpin dan wakil seharusnya seperti dua tangan yang bekerja bersama. Yang satu memimpin arah, yang lain memperkuat pelaksanaan. Jika keduanya saling percaya, banyak hal bisa dapat diselesaikan lebih cepat. Program berjalan, keputusan tidak tertahan, dan birokrasi punya arah yang jelas. Tetapi jika yang terjadi adalah rivalitas, seluruh mesin pemerintahan ikut tersendat.

Di banyak daerah kita melihat pola yang sama. Ketika pemilihan selesai, pasangan pemimpin tampil kompak di depan publik. Foto bersama, senyum bersama, pidato penuh janji. Tidak sedikit yang akhirnya menjadi janji bohong. Namun tidak lama kemudian mulai muncul jarak. Komunikasi memburuk, kepercayaan menipis, dan masing-masing mulai membangun lingkaran kekuatan sendiri. Politik internal menjadi lebih ramai daripada kerja untuk masyarakat. Belum lagi penjilat-penjilat yang menempel dan membersamai ikut mengompori. Dalam situasi seperti itu, jabatan wakil sering kehilangan makna. la tidak lagi menjadi penopang kepemimpinan, melainkan pesaing dalam bayang-bayang.

Sang wakil membentuk gerbongnya sendiri. Energi yang seharusnya dipakai untuk menyelesaikan masalah publik malah habis untuk menghitung langkah politik berikutnya. Pemerintahan memang berjalan, tetapi tanpa arah yang kuat. Tidak adalagi visi yang jelas. Karena itu, teladan seperti Cheney terasa sangat relevan untuk dingat dalam konteks politik hari ini. la mampu menunjukkan satu hal penting: kemampuan menahan ambisi. Dalam politik yang penuh perebutan posisi, sikap seperti itu menjadi pengingat bahwa kekuasaan seharusnya dijalankan dengan kedewasaan. Tanpa itu, demokrasi hanya akan dipenuhi persaingan, tetapi miskin kepemimpinan.

Di daerah Anda, bagaimana? Gubernur dan wakil gubernur Anda masih akur? Bupati dan wakil bupati Anda masih akur di tahun pertama ini? Atau, sudah baku hantam dan perang dingin? Jika ada yang mulai tidak akur, saya yakin Anda pasti bosan dan jengah dengan sikap “kesetanan politis”mereka. Bukannya fokus membangun dan memimpin daerah, justru saling menggebuk. (**)


Pos terkait