Krisis Anggaran KONI Hantam Cabor Andalan, Percasi Kota Bima Terancam Gagal Tampil di Porprov 2026

Kota Bima, Lensa Pos NTB – Cabang olahraga catur dibawah naungan Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) yang selama ini menjadi lumbung medali emas Kota Bima kini berada di ujung tanduk. Percasi Kota Bima terancam gagal berpartisipasi pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB ke-XII tahun 2026 akibat keterbatasan anggaran dari KONI Kota Bima. Situasi ini memicu kekecewaan di internal pengurus dan atlet Percasi Kota Bima, mengingat cabor catur selama ini konsisten menyumbang medali emas bagi daerah.

Ketua Harian Percasi Kota Bima, Makruf, S.Pd, mengungkapkan kekecewaannya setelah menerima surat resmi dari KONI Kota Bima yang menetapkan kuota atlet catur hanya 8 orang. Padahal, sebelumnya Percasi mengajukan 17 atlet dan telah melakukan rasionalisasi menjadi 15 atlet dalam rapat klinis bersama KONI.

Komposisi tersebut dinilai sudah ideal untuk menghadapi berbagai nomor pertandingan. “Keputusan ini sangat mengejutkan. Kami sudah mengurangi jumlah atlet, tapi justru dipangkas lagi menjadi hanya 8 orang. Ini jelas berdampak besar pada peluang kami,” tegas Makruf.

Cabor catur bukanlah cabang biasa bagi Kota Bima. Pada Porprov 2018, Percasi menyumbang 3 medali emas, sementara pada Porprov 2023 kembali mengukir prestasi dengan 2 medali emas. Untuk Porprov 2026, Percasi bahkan memasang target ambisius, yakni 5 medali emas. Namun dengan kuota terbatas, target tersebut kini berada dalam ancaman serius.

“Dengan hanya 8 atlet, praktis banyak nomor tidak bisa kami ikuti. Ini bukan hanya soal target, tapi juga soal peluang bertanding yang hilang,” ujarnya. Yang lebih memprihatinkan, para atlet telah menjalani proses seleksi ketat dan Training Center (TC) selama berbulan-bulan. Keputusan pembatasan kuota ini dinilai berpotensi mengorbankan hasil pembinaan yang telah dilakukan secara serius.

“Kami sudah bekerja keras, atlet juga sudah berlatih maksimal. Tapi kondisi ini membuat semua upaya itu terancam tidak optimal,” tambah Makruf. Percasi Kota Bima mendesak adanya kejelasan dan solusi dari KONI Kota Bima, agar cabang olahraga catur tetap bisa berpartisipasi secara maksimal. Pasalnya, jika tidak ada langkah konkret, bukan tidak mungkin cabor yang selama ini menjadi penyumbang prestasi justru kehilangan peran di ajang olahraga terbesar tingkat provinsi tersebut.

Makruf juga menegaskan bahwa keputusan pembatasan kuota menjadi hanya 8 atlet sangat membebani pihaknya sebagai pengurus. Ia bahkan menyebut, daripada harus mencoret banyak atlet yang telah melalui seleksi ketat dan menjalani TC sejak awal, pihaknya mempertimbangkan lebih baik tidak mengirimkan atlet sama sekali.

“Ini menjadi dilema besar bagi kami. Atlet yang sudah berjuang dari awal, mengikuti seleksi ketat dan TC berbulan-bulan, harus tersingkir karena keterbatasan kuota. Secara moral, ini sangat berat. Lebih baik tidak berangkat daripada kami harus menanggung beban mencoret mereka yang sudah berproses,” pungkasnya. (Tim Lensa Pos NTB)

Pos terkait