Oleh: Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.) – Pengamat Sosial Politik
Lensa Pos NTB, OPINI – Disebut gajah, dia kuda. Disebut kuda, tapi dia gajah. Manasuka Anda menyebutnya. Kalau dilihat, dia itu gajah yang sepertinya akan menjadi kuda dalam waktu yang tidak lama lagi. Kuda, eh, gajah ini diproyeksikan oleh banyak orang akan lari melesat. Mungkin karena itu gajah ini disebut kuda hitam. Saya merenung, jangan-jangan benar juga prediksi banyak orang. Kalau dilihat dari polanya, ada benarnya prediksi mereka. Sebagian tanda mulai muncul. Jangan-jangan tanda-tandanya hampir seperti kemunculan tahun gajah di Arab di masa silam.Abimana, orang lama, belum lama ini berkunjung ke tempat penangkaran gajah. Di sana, ia melihat banyak kepala lama menyeberang ke kandang gajah. Ada yang dari kandang elang, kerbau, dan rumah biru damai.
Abimana heran, kok, bisa orang-orang mengeksoduskan kepalanya ke kandang gajah. Apa kandang kerbau sudah makin bau? Atau apakah rumah biru damai sudah tidak meyakinkan? Atau apakah elang yang sedang makin tua dan diprediksi akan kehilangan taringnya? Abimana ini juga naif. Untuk apa dia ke situ? Mempererat silaturahmi, katanya. Halah, mana bisa dipercaya mulut Abimana. Tak ada bedanya dia dengan cecunguk lain. Omongannya tak bisa dipegang. Kalau saya bertemu Abimana, saya hanya ingin mengatakan satu hal, “Anda itu _als een kip zonder kop_.” Itu peribahasa Belanda yang kira-kira berarti Anda bersikap seperti ayam tanpa kepala. Tapi di sisi lain, sikap Abimana tidak sepenuhnya salah. Begitulah manusia: harus luwes, licin, dan fleksibel untuk bertahan hidup.Anda jangan salah menilai.
Pemilik penangkaran gajah ini juga sangat pandai. Keterampilannya dalam ini dan itu sering menipu perspektif orang. Ia banyak diam, tapi ternyata menyusun strategi, sampai-sampai mengalahkan si paling ahli strategi yang sana itu. Dalam hal memanipulasi dan mengeksploitasi informasi dan peluang, dia ahlinya. Sekali lagi, dia ahlinya. Anda jangan sampai mudah tertipu dengan cover buku. Pengaruhnya selama 2,5 windu sepertinya belum memudar. Banyak orang datang meminta doa dan wangsit ke situ. Orang-orang ini, kok, bodoh, saya membatin. Macam minta pengampunan dan perbaikan nasib, kok, ke peternak gajah.Tapi satu hal yang saya baca, arah angin akan berubah. Tak lama lagi akan menjadi tahun gajah. Tahun gajah adalah tahun di mana gajah akan mengamuk. Bolehlah ini disebut Tahun Gajah Jilid 2. Tentaranya adalah bekas-bekas tentara elang, kerbau, rumah perdamaian, bahkan jangan-jangan dari pabrik yang lambangnya mirip Mercy.Ketika arah angin berubah, orang-orang yang oportunis dan tidak ingin kehilangan periuk nasi harus bisa bermanuver. Jika tidak, mereka akan kesulitan beradaptasi. Tapi, herannya saya, apa tidak gusar pemilik kandang elang? Kalau saya, sudah waktunya dia memasang mata dan telinga untuk menyerap informasi. Saya juga skeptis. Pemilik kandang gajah memegang kartu dan rahasia pemilik kandang elang. Sejujurnya, si pemilik kandang elang tidak benar-benar berdiri di atas kaki sendiri. Mbalelo sedikit, alamat akan ditinggal oleh pemilik kandang gajah.Gajah akan mengamuk dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Sekarang orang-orang sudah mulai menilai. Elang lebih mempertajam taringnya, lalu lupa akan janji-janjinya. Di sisi lain, gajah dalam kehidupan punya sikap setia dengan janji-janjinya. Filosofi itu juga yang saya lihat disebarluaskan oleh pemilik kandang gajah untuk menggaet kepala-kepala lama agar menyeberang.Makin hari, makin riuh orang menyeberang ke kandang gajah. Anda tahu eksodus? Eksodus adalah perpindahan atau pengungsian penduduk secara besar-besaran. Yang pasti, mereka paham, tahun gajah akan datang. Kedatangannya adalah kepastian. Tidakkah Anda sadar akan datang Tahun Gajah Jilid 2? Tapi, omong-omong, ini buka tentang gajah dan elang. Cukup sekian dulu. Sudah malam. (**)
