Dompu Perlu Peta Talenta Pemuda

Oleh: Andi Fardian – Penerima Penghargaan KNPI Award 2022 Kategori Tokoh Inspiratif

Lensa Pos NTB, OPINI – Bupati Dompu yth, persoalan Dompu pada isu kepemudaan sejak dulu, jauh sebelum Bapak memimpin adalah pemuda Dompu bingung mau melakukan apa. Mereka juga bingung mau bekerja apa. Mereka tidak tahu apa saja yang terukur dalam mewujudkan harapan mereka. Yang dominan di Dompu adalah urusan politik praktis.Pemuda-pemuda yang pada dasarnya punya bakat lebih, tapi karena kurangnya wadah kreativitas dan inovasi, akhirnya ikut terlibat dalam perdebatan dan perbedaan politik praktis yang sering kali destruktif. Sungguh sangat disayangkan, pemuda-pemuda Dompu yang seharusnya bisa mengembangkan bakat mereka, tapi terpaksa ikut terpolarisasi dalam praksis politik kotor dan jahat. Mereka berdebat di Facebook dengan hidup dan matinya. Mereka lepi ncihi di media sosial, sehingga jadi lupa untuk mengembangkan diri dan potensinya. Sebagian, bahkan mungkin sebagian besar pemuda di Dompu tidak melihat masa depannya di Dompu. Ada banyak pemuda Dompu, termasuk di sini adalah yang baru lulus kuliah terpaksa balik ke Dompu, bukan karena melihat ada harapan penghidupan di sana, tetapi “dipaksa” oleh doktrin lama “membangun daerah harus balik ke daerah” dan faktor emasional harus dekat dengan keluarga. Terkait faktor emosional yang terakhir itu, kalimat “makan tidak makan yang penting ngumpul” sudah saatnya diubah menjadi “ngumpul gak ngumpul, yang penting makan.”Tapi apa pun itu, saya berharap pemuda Dompu dapat melihat masa depannya di Dompu.

Saya berharap Bapak bisa full concern pada hal ini. Tentu dibutuhkan upaya keras dan pembangunan yang berkelanjutan agar membuat daerah ini bisa menjadi harapan bagi anak-anak dan pemuda Dompu ke depannya. Beberapa hari yang lalu, saya mencoba kuliner kambing bakar di Sleman Barat. Kebetulan saya bertemu dengan Bendahara DPD PKS Dompu. Pulangnya, saya melewati gedung Youth Centre DIY. Tiba-tiba muncul di pikiran saya, “Seharusnya tidak terlalu berat bagi Dompu untuk membangun satu gedung yang dapat digunakan sebagai inkubator talenta pemuda di Dompu.” Youth Centre dapat dipakai untuk apa saja bagi pemuda. Mereka bisa berekspresi seni dan budaya ide kreatif, mengasah bakat kepemimpinan, inkubator digital, sampai mengasah minat wirausaha dan inovasi sosial. Saya mengapresiasi beberapa komunitasi pemuda yang mengadakan berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat.

Bupati Dompu yth, sekali lagi saya pikir tidak akan terlalu sulit untuk membangun satu gedung serbaguna sebagai Youth Centre Dompu. Dana yang dibutuhkan pun tidak akan besar “hanya” untuk membangun satu gedung itu. Biar anak-anak dan pemuda Dompu berkumpul di sana. Bapak bisa berdayakan komunitasi-komunitas pemuda yang memiliki ambisi, semangat, dan visi besar untuk aktif mengelola itu. Dompu sebenarnya tidak kekurangan pemuda berbakat dan pintar. Saya menyampaikan ini sesuai kondisi apa adanya. Kami sendiri adalah “produk Dompu”. Hanya saja, anak-anak dan pemuda di Dompu tidak dapat memaksimalkan potensi mereka karena lingkungan, sarana-prasarana, dan atmosfir dukungan tidak maksimal. Jamak dengan itu, daerah juga masih kurang dalam mengenali, merawat, dan mengarahkan potensi mereka. Banyak daerah di Indonesia sudah menjadikan pemuda sebagai subjek sekaligus objek pembangunan. Pelibatan pemuda tidak sekadar lip services, tapi mereka benar-benar merealisasikannya. Selama ini, kebijakan untuk pemuda kerap dipersempit pada hanya pelatihan dan program jangka pendek.Seolah-olah selesai dilakukan pelatihan dan memberi mereka sertifikat, urusan selesai. Padahal, bicara tentang pemuda, bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga siapa pemuda, apa potensinya, dan ke mana arah masa depannya.

Bupati Dompu yth, yang tidak ada di Dompu selama ini adalah pembangunan talenta pemuda yang terukur dan sustain. Saya mengusulkan agar Pemda Dompu menyusun Peta Talenta Pemuda. Menurut saya, sudah saatnya Dompu memiliki peta talente pemuda yang terukur di mana dari peta tersebut pemerintah daerah (pemda) bisa mengetahui kekuatan generasi mudanya. Mengapa Dompu membutuhkan peta talenta pemuda? Karena selama ini Pemda Dompu belum memiliki gambaran yang utuh tentang kekuatan generasi mudanya. Selama ini, talenta sering dipahami secara sempit, sebatas prestasi akademik. Padahal, banyak pemuda Dompu yang unggul di sektor pertanian inovatif, peternakan, seni budaya, kepemimpinan dan inovasi sosial, hingga kreativitas digital. Tanpa definisi talenta yang kontekstual, kebijakan pemuda akan terus salah sasaran. Pasti itu.Apa saja yang perlu dilakukan oleh Pemda Dompu dalam peta talenta pemuda?.

Pemda Dompu perlu memulainya dari desa. Desa adalah ruang paling dekat dengan kehidupan pemuda, tempat minat, keterampilan, dan potensi mereka tumbuh secara alami. Karena itu, proses pemetaan perlu melibatkan pemerintah desa, sekolah, komunitas, serta tokoh-tokoh pemuda setempat. Hasil pemetaan tersebut kemudian perlu dikelola dalam sebuah basis data talenta pemuda yang terintegrasi lintas OPD. Selama ini, saya melihat kebijakan kepemudaan berjalan sendiri-sendiri. Dinas Pendidikan jalan sendiri, Dinas Pemuda dan Olahraga jalan sendiri. OPD perlindungan anak juga begitu. Pun, mungkin KNPI juga begitu. OPD-OPD itu tidak memiliki data terpadu. Tahu dari mana? Saya rutin membaca itu. Basis data yang terhubung akan membantu Pemda Dompu merancang program yang lebih tepat sasaran dan saling melengkapi.Peta talenta pemuda juga harus terhubung langsung dengan kebijakan nyata. Ini menjadi titik krusial yang sering terlewat. Pelatihan seharusnya disesuaikan dengan minat dan potensi pemuda, bukan dibuat seragam. Bantuan dan inkubasi usaha perlu berbasis pada kekuatan lokal yang telah dipetakan. Bahkan dalam rekrutmen program daerah dan kemitraan dengan pihak swasta, peta talenta pemuda seharusnya menjadi rujukan utama.

Selain kebijakan, pemuda membutuhkan ruang untuk tumbuh. Talenta tidak akan berkembang jika tidak disediakan ruang yang mendukung. Pemda Dompu perlu memfasilitasi ruang-ruang sederhana namun fungsional, seperti co-working space, sanggar anak, ruang seni dan kreatif, serta lahan eksperimen bagi pemuda di sektor pertanian dan peternakan. Yang dibutuhkan adalah melainkan konsistensi dan keberlanjutan dukungan. Saya senang sudah muncul beberapa kafe untuk diskusi di Dompu. Pemuda juga harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan. Mereka perlu dilibatkan sejak proses perencanaan, bukan hanya sebagai pelaksana program. Pemda Dompu bisa membentuk forum pemuda lintas desa, dialog kebijakan pemuda yang rutin, serta ruang kritik dan evaluasi terbuka akan memperkuat rasa memiliki dan kepercayaan. Tanpa itu, talenta-talenta terbaik Dompu akan terus merasa asing di daerahnya sendiri.Dalam jangka panjang, evaluasi kebijakan kepemudaan juga perlu bergeser. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan atau besar anggaran yang terserap, melainkan dari sejauh mana pemuda mampu bertahan, berkembang, dan berkontribusi di Dompu.

Munculnya inisiatif lokal baru, tumbuhnya pemimpin muda di desa, serta keberlanjutan aktivitas produktif pemuda menjadi indikator yang lebih bermakna.Dan, di atas semua itu, sebagai penopang ekosistem tersebut, pembangunan gedung Youth Centre sangat diperlukan. Youth Centre dapat menjadi ruang pertemuan gagasan, inkubasi talenta, pembelajaran non-formal, sekaligus jembatan dialog antara pemuda dan pemerintah daerah. Jika dikelola dengan baik, Youth Centre dapat menjadi simpul penting dalam membangun peta talenta pemuda Dompu secara berkelanjutan. Sekian. (**)

Pos terkait