Kota Bima, Lensa Pos NTB – Festival Rimpu Mantika hari ini bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan simbol kebangkitan identitas daerah yang berakar dari gagasan besar mantan Wali Kota Bima, H. Muhammad Lutfi, S.E. (HML).
Di tangan HML, rimpu tidak hanya dihidupkan kembali, tetapi diangkat menjadi kekuatan budaya yang menggema hingga level nasional. Ketua Karang Taruna Kota Bima, Amir, S.Sos, menegaskan bahwa HML adalah sosok kunci di balik lahirnya Festival Rimpu Mantika. Gagasan tersebut, kata dia, bukan sekadar program seremonial, melainkan strategi besar untuk mengembalikan kebanggaan masyarakat terhadap budaya Mbojo.
“Festival Rimpu Mantika ini adalah buah pemikiran HML. Beliau ingin budaya rimpu tidak hanya dikenang, tetapi menjadi identitas yang hidup dan dibanggakan,” ujar Amir, Sabtu (25/4/2026).
Jejak keberhasilan itu mulai terlihat sejak pelaksanaan Festival Rimpu tahun 2019. Saat itu, target peserta yang hanya sekitar 15 ribu orang justru terlampaui jauh. Antusiasme masyarakat membludak hingga lebih dari 20 ribu peserta memenuhi jalanan Kota Bima. Pawai yang dimulai dari Lapangan Serasuba dan berakhir di Pantai Lawata tersebut dipimpin langsung oleh HML. Lautan rimpu yang membentang sepanjang rute menjadi simbol kuat kebangkitan budaya yang selama ini nyaris terpinggirkan.
Dalam momen itu, HML menyampaikan bahwa capaian tersebut adalah milik seluruh masyarakat Kota Bima.“Rekor ini bukan hanya kebanggaan pemerintah, tetapi kebanggaan seluruh warga Kota Bima,” ungkapnya kala itu.
Tak berhenti pada satu momentum, di era kepemimpinannya, Festival Rimpu terus didorong menjadi agenda besar yang melibatkan seluruh elemen. Kelurahan, pelajar, instansi, hingga komunitas dilibatkan secara massif, menjadikan Rimpu Mantika sebagai pesta rakyat yang hidup dan inklusif.
Puncaknya terjadi pada tahun 2023, ketika Festival Rimpu berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai parade pakaian adat rimpu terbanyak. Capaian ini menjadi bukti bahwa gagasan HML bukan hanya berhasil menggerakkan masyarakat, tetapi juga mengukuhkan posisi budaya Bima di panggung nasional.Lebih jauh, HML merancang Rimpu Mantika tidak hanya sebagai ajang pelestarian budaya, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi.
Ribuan pelaku UMKM turut merasakan dampak langsung dari perputaran ekonomi selama festival berlangsung, menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi baru.Amir menambahkan, keberlanjutan Festival Rimpu hingga hari ini menunjukkan bahwa fondasi yang dibangun HML sangat kuat.
Setelah masa jabatannya berakhir, program ini tetap dilanjutkan oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Bima, H. Mohammad Rum, dan kini diteruskan oleh Wali Kota Bima, H. A. Rahman.“Ini bukti bahwa Rimpu Mantika bukan milik satu orang, tapi sudah menjadi milik masyarakat. Namun, kita tidak boleh lupa, arsitek awalnya adalah HML,” tegasnya.Kini, gaung Rimpu Mantika terus meluas, bahkan mulai dikenal di tingkat internasional.
Apa yang dirintis HML telah menjadi fondasi kokoh bagi Kota Bima dalam menegaskan diri sebagai pusat budaya rimpu di Indonesia.Lebih dari sekadar festival, Rimpu Mantika adalah warisan gagasan—tentang identitas, kebanggaan, dan komitmen kolektif masyarakat dalam menjaga budaya leluhur agar tetap hidup, berkembang, dan dihormati sepanjang zaman. (Tim Lensa Pos NTB)
