Oleh: Andi Fardian, M.A
Pengamat Sosial Politik
Lensa Pos NTB, OPINI – Apa itu gelandangan politik? Anda bisa mencari tahu di berbagai bacaan. Tapi, sejauh pengetahuan saya, ini bukan istilah resmi dalam ilmu politik. Ini hanya metafora atau bentuk sindiran bagi pelaku-pelaku politik tertentu. Anda juga harus bisa membedakan antara gelandang politik dengan gelandangan politik. Gelandang politik punya posisi yang jelas. Ibaratnya dalam sepak bola, Xavi, Iniesta, dan Busquets adalah gelandang Barca yang memiliki peran sangat krusial dalam kejayaan Barca. Tugasnya adalah mengatur ritme permainan, mengontrol lapangan, dan mendistribusikan bola dengan visi yang jelas, sehingga Messi yang winger, atau Villa dan Pedro yang striker, bisa mendapatkan pasokan bola yang kemudian mereka konversi menjadi gol. Itu gelandang dan tugasnya.
Dalam politik juga ada gelandangnya. Prabowo punya gelandang yang bernama Prof. Dasco. Dasco ini gelandang bertahan. Saya belum melihat Gerindra punya gelandang serang. Jenderal Sjafrie? Kurang pas. Posisi Jenderal Sjafrie sebelas dua belas dengan Busquets. Jarang terlihat, tapi perannya signifikan. Vicente Del Bosque, mantan pelatih Timnas Spanyol, pernah mengatakan, “Kalau Anda melihat permainan, Anda tidak akan melihat (peran) Busquets. Tapi, kalau Anda memperhatikan Busquets, Anda akan melihat permainan secara keseluruhan.” Peran Dasco dan Sjafrie ini adalah gelandang. Mereka mengatur permainan. Pelatihnya tentu saja Prabowo.
Di PDIP, bagaimana? Siapa gelandangnya? Sepenglihatan saya, hanya Puan: kadang jadi gelandang serang, tapi lebih banyak jadi gelandang bertahan. Gaya politik Puan lebih banyak meniru gaya mendiang sang ayah, Taufik Kiemas. Ketika Mega konflik dengan SBY, peran Taufik Kiemas sangat signifikan dalam menjembatani. Mega sendiri seperti siapa kalau di sepak bola? Ya, Ibra. Di PDIP tidak ada gelandang serang tulen. Mungkin karena tangan besi Mega. Yang ada di PDIP cenderung main keroyok. Ketika menyerang, semua maju. Ketika bertahan, semua turun di sepertiga lapangan bawah. Adian? Ini kadang jadi striker, kadang gelandang, kadang jadi bek.Pada intinya, gelandang politik punya peran yang signifikan dalam mengatur kepentingan, tempo, ritme, dan visi politik. Kalau lobi-lobi politik sedang deadlock, gelandanglah yang mengatur ritme. Mereka mencari letak sumbatnya agar bola politik mengalir lagi.
Lalu, gelandangan politik seperti apa? Anda pun bisa mencari di Google atau literatur. Tapi, menurut saya, gelandangan politik adalah mereka yang sudah kalah dan jadi pecundang dalam politik, tidak punya panggung, lalu mencari cara dengan bersikap provokatif agar seolah-olah mereka dianggap memiliki peran.Ada dua jenis pecundang politik. Satu, mereka yang kalah, tapi karena tahu diri tersingkir, ia mengambil posisi tertentu untuk memperkeruh suasana pihak yang menang. Dua, sudah menjadi pecundang, lalu bersikap provokatif dan terus mencari panggung dengan cara mengadu domba berbagai kepentingan. Tipe nomor dua inilah yang bisa disebut gelandangan politik. Gelandangan politik sebelas dua belas dengan Sengkuni. Kerjaannya hanya mencari masalah dan membuat gaduh.Para gelandangan politik tidak memiliki pendirian yang jelas. Orientasinya hanya kepentingan pribadi. Omong kosong jika gelandangan politik ini mengatasnamakan kepentingan politik dalam gerakannya.
Gelandangan politik adalah orang-orang yang tidak siap menjadi pecundang atau pihak yang kalah. Mereka mencari-cari cara agar mendapatkan panggung. Mereka tidak mengkritik, tapi menghina. Mereka tidak punya kemampuan untuk berdialektika. Mereka tidak punya ide dan visi yang jelas. Yang mereka pikirkan hanya kepentingan perut dan kelompoknya. Di sekitar Anda ada gelandangan politik? Apakah ada pecundang-pecundang politik yang tidak menerima kekalahan, lalu mencoba memperkeruh suasana? (**)
