Bisakah Desa-Desa di Dompu Seperti Ini?

Oleh : Andi Fardian, M.A – Pengamat Sosial Politik.

Lensa Pos NTB, OPINI – Pengelolaan objek wisata yang berkelanjutan dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar, saya kira, DIY dan Jawa Tengah-lah contohnya. Di Jogja, hampir pasti ada objek wisata baru yang dibuka setiap bulannya. Di Jawa Tengah juga begitu; selalu muncul tempat-tempat baru yang menarik perhatian orang, termasuk anak-anak muda untuk berkunjung. Bagi orang-orang di daerah lain, objek wisata baru tersebut, biasa-biasa saja. Tapi di DIY dan Jawa Tengah, karena kreatif, masyarakat menyulap tempat tersebut menjadi objek wisata yang memberikan pemasukan bagi dusun atau desa tersebut, bahkan untuk keuntungan perorangan.

Di beberapa tempat di Jogja, ada masyarakat yang memanfaatkan lahannya untuk taman bunga. Mereka menanam bibit bunga yang indah, dan setelah beberapa bulan, bunga-bunga itu tumbuh. Di tempat itu, disediakan tempat-tempat berfoto yang instagramable dan fotaable. Maka viral lah tempat itu. Karena viral, ratusan orang datang berkunjung. Setiap orang dipatok biaya masuk Rp10 ribu rupiah. Kalikan saja dengan ribuan orang datang berkunjung selama beberapa bulan.

Saya pernah menanyakan salah seorang pemiliknya. Selama empat bulan taman bunga itu beroperasi, ia mendapatkan pendapatan bersih mencapai 300 persen dari modal yang dikeluarkan. Masa tumbuh bunga tentu ada waktunya, tapi ia dapat memperhitungkan modal untuk membeli bibit, perawatan, dan biaya lain, dengan untung yang akan ia dapatkan. Setelah bunganya mati, ia berpikir bagaimana menanam lagi. Dengan memiliki taman bunga itu, ia bisa memberi dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. Tetangga-tetangganya bisa berjualan di sekitar itu. Ada juga yang menjadi tukang parkir. Ia pun bisa menyumbang untuk pemasukan RT dan dusunnya. Kreativitas semacam itu sangat jarang ditemui di daerah di luar Jawa. Di Jogja, sungai kecil saja bisa menjadi objek wisata yang viral dan ramai dikunjungi oleh wisatawan. Anak-anak muda di situ tahu betul kekuatan media sosial. Mereka memanfaat itu untuk mengembangkan potensi desanya. Kunci sebenarnya adalah kreativitas dan kerja sama antarmasyarakat. Masyarakat harus tahu potensi desanya. Dengan begitu, mereka bisa mengembangkan potensi yang ada. Itu lebih baik daripada meminta-minta atau menunggu bantuan pemerintah.

Beberapa bulan lalu, saya pergi liburan keluarga di Magelang Jawa Tengah. Yang ikonik di Magelang, tentu saja, Candi Borobudur-nya. Tapi bukan hanya itu. Di sekitar Candi Borobudur, ada banyak sekali objek wisata baru yang tidak kalah menarik dan bahkan memberikan pengalaman berwisata yang berbeda, selain hanya berkunjung ke Candi Borobudur. Salah satu tempat yang sangat ramai dikunjungi adalah bukit Puthuk Setumbu. Bukit ini, dulunya, biasa-biasa saja. Tapi semenjak dipakai sebagai salah satu tempat shooting film “Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2)”, tempat ini ramai dikunjungi oleh wisatawan. Dari atas bukit ini, pengunjung bisa melihat gunung Merapi dan gunung Merbabu di sebelah timurnya. Juga, Candi Borobudur dari ketinggian. Puthuk Setumbu juga bagus untuk menunggu sunrise.Saya ingin menggarisbawahi bahwa ramainya Puthuk Setumbu, utamanya bukan karena menjadi salah satu tempat shooting, tapi karena kreativitas masyarakat menjemput dan memanfaatkan peluang dan berkah karena menjadi tempat shooting. Ada banyak tempat yang memiliki peluang untuk menjadi besar, tapi karena masyarakatnya tidak kreatif, ya, terbengkalai begitu-gitu saja. Saat ini Puthuk Setumbu telah menjadi objek wisata yang ramai dan masyarakatnya bisa berjualan di sepanjang rute menuju puncak bukit. Pemasukan Puthuk Setumbu dipakai dan dibagi ke masyarakat dan sebagiannya lagi untuk pembangunan dusun.Hebatnya lagi, Puthuk Setumbu mendapatkan bantuan atau semacam hibah dari Kementerian PUPR. Kementerian PUPR membangun jalan dan fasilitas pendukung lainnya di Puthuk Setumbu. Kalau tidak salah juga, Kemenparekraf memberi bantuan untuk UMKM di sekitarnya. Bantuan dari kementerian datang karena melihat pengelolaan Puthuk Setumbu yang benar dan kreatif. Pada intinya, kalau mau bantuan datang, masyarakat harus kreatif dulu dan menunjukkan hasil kerja yang nyata. Bukan sebaliknya. Jadilah masyarakat yang kreatif dan inovatif. Dengan begitu, potensi desa dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat.

Desa kalian, bagaimana? Apakah masyarakat dan pemerintah desanya kreatif? Apakah desa kalian maju?Kemajuan desa tidak turun dari langit. Dibutuhkan upaya dan kerja sama dari masyarakat dan pemerintah desanya untuk memajukan desa. Bisakah desa-desa di Dompu dikelola secara kreatif dan berkelanjutan seperti ini? Penting untuk menjadi kepala desa yang kreatif dan inovatif. Bukan hanya yang pintar berpolitik dan menghabisi lawannya. Karena dengan kreativitas, ia akan membawa desanya maju.

(Sumber foto: Google dan Dokumen Pribadi Keluarga Fardian)

Pos terkait