Oleh: Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.) _Penulis Buku-buku Kepariwisataan
Lensa Pos NTB, OPINI – Ini yang saya amati. Pengembangan pariwisata di Yogyakarta–Jawa Tengah mengandalkan inovasi dan kreativitas masyarakat. Setelah berkembang, bantuan dan hibah dari pemerintah maupun swasta baru datang. Makin majulah mereka.Sedangkan di luar Yogyakarta–Jawa Tengah, umumnya pengembangan pariwisata mengandalkan datangnya bantuan pemerintah terlebih dahulu. Jika tidak ada dana bantuan dari pemerintah, objek pariwisata tidak kunjung dikembangkan.Awalnya, saya skeptis.
Saya pernah berkomentar, “Ya wajar Yogyakarta–Jawa Tengah bisa meraup PAD dari sektor pariwisata. Mereka ‘kan dibantu pemerintah.” Seiring berjalannya waktu dan setelah saya amati sendiri, ternyata anggapan itu salah. Yang mereka andalkan adalah inovasi dan kreativitas. Setelah berkembang, pemerintah melihat potensi tersebut. Barulah bantuan dan hibah itu masuk.Di Yogyakarta–Jawa Tengah, air sungai yang mengalir dari batu setinggi dua meter saja bisa dipoles menjadi air terjun wisata. Ini sempat membuat saya shock pada awal-awal tinggal di sini. Namun, kreativitas masyarakatlah yang menjadikan hal tersebut viral dan mendatangkan retribusi bagi dusun, desa, dan daerah.Pada akhirnya, saya mengambil kesimpulan bahwa jika suatu daerah ingin memajukan sektor pariwisatanya, masyarakat dan pemerintah daerah harus kreatif serta inovatif. Mereka harus menumbuhkan kesadaran untuk bergerak dan berbuat terlebih dahulu. Setelah maju, barulah mengharapkan bantuan pemerintah.
Karena itu pula, saya begitu sinis terhadap masyarakat dan daerah yang selalu mengeluh, “Pemerintah pusat tidak pernah membantu daerah kami.” Bagaimana pemerintah pusat mau membantu pengembangan pariwisata di daerah Anda jika masyarakatnya sendiri malas berinovasi?Saya juga sinis terhadap sikap masyarakat yang selalu melihat hambatan dan masalah daripada peluang yang dimiliki daerahnya. “Daerah kami kurang ini, kurang itu. Daerah kamu begini dan begitu.” Terlalu banyak membicarakan kekurangan dan hambatan sehingga akhirnya lupa berinovasi serta melihat peluang yang ada.
Inti permasalahannya adalah: apakah masyarakat malas berinovasi atau belum memiliki kesadaran untuk berinovasi?Daerah Anda bagaimana? Pemerintah daerah dan masyarakatnya malas atau mau berinovasi?
