NTB, Belajarlah Mengelola Pendidikan dari Yogyakarta

Oleh: Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.) – Orang NTB di Yogya

Lensa Pos NTB, OPINI – Saya sering berseloroh begini, “SMA yang dianggap favorit di NTB justru kalah jauh dari sekolah pinggiran di Yogyakarta.” Definisi SMA pinggiran yang saya maksud adalah lokasinya yang berada di pusat ibukota provinsi dan tidak. SMA Negeri 1 Mataram yang merupakan sekolah yang dianggap favorit oleh orang NTB justru kalau jauh dari SMA Negeri 1 Godean. SMA Negeri 1 Godean menjadi salah satu SMA terbaik di Indonesia, setidaknya dalam delapan tahun terakhir. Artinya, SMA Negeri 1 Mataram saja jauh di belakang, apalagi sekolah-sekolah lain di NTB. Sebagian orang di NTB tersinggung dengan pernyataan saya tersebut. Tapi data tidak berbohong. Mau menggunakan nilai TKA, UTBK, LTMPT, jumlah siswa yang diterima PTN terbaik, maupun jumlah prestasi, sekolah-sekolah di NTB jauh tertinggal dari sekolah pinggiran di Jogja.

30 SMA terbaik pada tahun 2025, tujuh-nya adalah di Yogyakarta. Sisanya terbagi di berbagai provinsi. Tahun 2026, bagaimana? Datanya juga tidak jauh beda. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak teman guru saya dari NTB datang ke Yogya. Entah untuk studi tiru, jalan-jalan, atau kegiatan pelatihan. Satu kalimat yang selalu sama mereka katakan, “Jauh, ya, kualitas sekolah kita dengan di sini.” Faktanya memang begitu. Syukurnya mereka objektif dalam memberi penilaian. Tapi tidak semua orang NTB objektif. Ketika dikritik atau melihat kenyataan seperti itu, bukannya mencari cara untuk berubah, yang ada justru mencari pembenaran ini dan itu. Makin tertinggal jauhlah kualitas pendidikan NTB. Hanya orang-orang yang memiliki pemikiran yang objektif mau menerima kenyataan.

Salah satu pernyataan yang paling absurd yang saya dengar adalah: tidak apa-apa pendidikan di NTB tertinggal, asalkan akhlak siswa-siswa baik. Ini suatu pembenaran yang mengandung logica fallacy. Pendidikan dan akhlak bukan dua hal yang harus dipertentangkan, seolah-olah kita hanya boleh memilih salah satunya. Justru pendidikan yang baik semestinya membentuk manusia yang berpengetahuan sekaligus berkarakter. Menganggap ketertinggalan pendidikan sebagai sesuatu yang dapat dimaklumi hanya karena akhlak siswa baik adalah cara berpikir yang keliru, sebab kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari aspek moral, tetapi juga dari kemampuan literasi, numerasi, sains, berpikir kritis, kreativitas, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman. Akhlak yang baik adalah modal penting, tetapi tanpa pengetahuan dan kompetensi yang memadai, generasi muda akan kesulitan bersaing dan berkontribusi secara optimal bagi daerahnya.

Satu di antara beberapa faktor yang membuat kualitas pendidikan NTB tertinggal adalah NTB tidak memiliki rencana pengembangan pendidikan yang jelas, terukur, dan berkelanjutan. Kebijakan pendidikan tidak cukup hanya berupa program yang berganti setiap periode pemerintahan atau kegiatan yang bersifat seremonial, tetapi harus dibangun di atas peta jalan yang memiliki target jangka pendek, menengah, dan panjang, lengkap dengan indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi secara terbuka. Tanpa perencanaan yang konsisten, pemerintah akan terus sibuk menyelesaikan persoalan yang sama dari tahun ke tahun tanpa pernah benar-benar menyentuh akar masalah.

Pendidikan membutuhkan arah yang jelas: apa yang ingin dicapai, kapan target itu harus tercapai, sumber daya apa yang diperlukan, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana keberhasilannya diukur. Jika hal-hal mendasar ini tidak tersedia, maka sulit berharap kualitas pendidikan NTB mengalami lompatan yang berarti.NTB, belajarlah mengelola pendidikan dari Yogyakarta. Berikut setidaknya lima hal yang bisa ditiru. Pertama, Yogyakarta memiliki visi pendidikan yang jelas dan konsisten. Pendidikan tidak dikelola hanya berdasarkan program tahunan atau kepentingan jangka pendek, tetapi ditempatkan sebagai agenda pembangunan jangka panjang.

NTB perlu melakukan hal yang sama dengan menyusun roadmap pendidikan daerah untuk 10–20 tahun ke depan, dengan target yang jelas dan terukur, mulai dari peningkatan kemampuan literasi dan numerasi, kualitas guru, angka partisipasi sekolah, hingga capaian lulusan. Roadmap itu harus menjadi kesepakatan lintas pemerintahan, sehingga tidak ikut berubah setiap kali gubernur atau bupati berganti. Dengan begitu, pendidikan NTB tidak lagi berjalan berdasarkan proyek, melainkan berdasarkan arah pembangunan yang jelas.

Kedua, Yogyakarta membangun ekosistem pendidikan yang terukur. Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh ruang kelas, gedung sekolah, atau jumlah guru, tetapi juga oleh lingkungan sosial dan intelektual yang menopangnya. NTB memiliki perguruan tinggi, pesantren, lembaga adat, komunitas, dunia usaha, dan berbagai organisasi masyarakat yang seharusnya dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Pemerintah Provinsi NTB perlu mempertemukan dan menghubungkan semua kekuatan tersebut dalam satu agenda bersama. Perguruan tinggi dapat dilibatkan dalam peningkatan kualitas guru dan riset pendidikan, pesantren dalam penguatan karakter dan literasi, dunia usaha dalam pengembangan keterampilan siswa, sementara komunitas dan masyarakat dilibatkan dalam membangun budaya belajar. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi urusan Dinas Pendidikan dan sekolah.

Ketiga, Yogyakarta menempatkan guru dan kualitas pembelajaran sebagai jantung pendidikan. Kita sering terjebak pada pembangunan fisik karena hasilnya mudah dilihat dan mudah dilaporkan. Di NTB, makin banyak sekolah dibangun, tapi tanpa visi yang terukur. Padahal, sekolah yang bagus bukan hanya sekolah yang memiliki gedung bagus, tetapi sekolah yang mampu menghasilkan proses belajar yang bermutu. NTB perlu mengubah prioritasnya dengan melakukan pemetaan kompetensi guru secara berkala, memberikan pelatihan yang benar-benar berbasis kebutuhan, memperkuat kapasitas kepala sekolah, dan memastikan guru mendapatkan pendampingan setelah pelatihan. Pemerintah juga perlu mengembangkan sistem evaluasi yang mengukur kualitas pembelajaran, bukan sekadar kepatuhan administratif. Jika kemampuan membaca siswa rendah, misalnya, maka yang harus ditanyakan bukan hanya apakah sekolah sudah memiliki program literasi, tetapi apakah kemampuan membaca siswa benar-benar meningkat.Keempat, Yogyakarta memiliki tradisi akademik dan budaya belajar yang kuat. Kota ini sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Indonesia.

Kehadiran perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menciptakan atmosfer intelektual yang memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas. Buku, diskusi, penelitian, seminar, komunitas, dan pertukaran gagasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. NTB harus mulai membangun budaya semacam itu sesuai dengan karakter daerahnya. Pemerintah daerah dapat membuat gerakan literasi yang serius, memperbanyak perpustakaan dan ruang belajar publik, mendukung komunitas membaca dan menulis, mengadakan forum ilmiah untuk pelajar, serta memberikan ruang lebih besar bagi siswa untuk mengikuti lomba penelitian, debat, karya ilmiah, dan kegiatan akademik lainnya.

Anak-anak NTB harus dibiasakan bukan hanya menerima pengetahuan, tetapi juga bertanya, membaca, meneliti, berdiskusi, dan menghasilkan pengetahuan.Kelima, Yogyakarta menunjukkan bahwa pendidikan harus dikelola dengan kesabaran dan konsistensi. Tidak ada jalan pintas untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan adalah pekerjaan lintas generasi yang hasilnya mungkin baru terlihat setelah bertahun-tahun. Karena itu, NTB harus berhenti mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari berapa banyak program yang dilaksanakan atau berapa besar anggaran yang terserap.

Dinas Pendidikan di NTB hampir selalu melakukan ini. Pemerintah daerah perlu menetapkan indikator hasil yang dievaluasi setiap tahun dan diumumkan secara terbuka kepada publik. Jika target tidak tercapai, harus ada koreksi kebijakan, bukan sekadar membuat program baru. Dengan cara itu, gubernur, bupati, kepala dinas, kepala sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan dapat dipaksa untuk bekerja berdasarkan hasil. Saya tidak meminta NTB untuk menjadi seperti Yogyakarta, tetapi tidak ada salahnya NTB belajar dari cara Yogyakarta membangun kualitas pendidikan sebagai pekerjaan jangka panjang: serius dalam merencanakan, konsisten dalam menjalankan, dan berani mengevaluasi diri. Ayo, semangat NTB. (*)

Pos terkait