Oleh: Andi Fardian – Mahasiswa Doktoral Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat UNS
Lensa Pos NTB, OPINI – Di sebuah konferensi internasional di musim dingin beberapa tahun yang lalu, saya bercengkrama dengan seorang teman yang Yahudi. Ia mewakili sebuah negara. Sebagai catatan, ras Yahudi tersebar di berbagai negara. Adaptabilitasnya yang tinggi membuat mereka mampu bertahan dalam berbagai keadaan dan himpitan. Ia begitu pintar, cerdas, dan sangat antusias melontar argumen-argumen kritis. Saya banyak bertanya padanya. Mengapa rata-rata anak Yahudi sangat cerdas, antusias, dan bahkan tidak jarang sangat ambisius. Dia banyak bercerita. Salah satunya adalah pola didik orang tua Yahudi yang membiasakan setiap anaknya sejak kecil untuk bertanya, berdebat, dan kritis.
Saya mengagumi Yahudi. Kekaguman itu bukan kepada negara, pemerintahan, atau kebijakan politik tertentu, melainkan kepada sejumlah tradisi hidup dan intelektual yang menurut saya layak dipelajari. Saya tidak pro zionis. Yahudi dan Zionis adalah dua hal yang berbeda.
Dalam banyak tradisi Yahudi, belajar bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh gelar, tetapi bagian penting dari kehidupan. Membaca, menghafal, bertanya, berdiskusi, dan memperdebatkan tafsir menjadi praktik yang diwariskan lintas generasi. Bagi saya, cara memperlakukan pengetahuan seperti ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat membangun kebudayaan belajar yang kuat.
Salah satu hal yang menarik adalah keberanian menempatkan pertanyaan sebagai bagian dari proses belajar. Dalam tradisi havruta, misalnya, pembelajaran dilakukan melalui dialog dan perdebatan, sehingga seseorang tidak hanya diminta memahami teks, tetapi juga menguji pemahamannya melalui percakapan dengan orang lain. Perbedaan pendapat tidak selalu dianggap sebagai ancaman terhadap kebenaran, melainkan dapat menjadi jalan untuk menemukan pemahaman yang lebih baik. Bahkan dalam tradisi intelektual rabinik, berbagai pendapat yang berbeda dapat tetap dicatat dan diwariskan meskipun tidak semuanya menjadi pandangan mayoritas. Ini menunjukkan bahwa sebuah gagasan tidak harus menang untuk tetap memiliki nilai dalam sejarah pengetahuan.
Kebiasaan tersebut menarik jika dibandingkan dengan budaya akademik kita yang kadang terlalu menghormati otoritas. Mahasiswa yang mengoreksi dosen dapat dianggap tidak sopan, peneliti muda yang mengkritik profesor senior dapat dicurigai mencari perhatian, dan orang yang mempertanyakan pendapat tokoh dapat dianggap tidak memiliki adab. Padahal, kritik yang disampaikan dengan argumen dan bukti bukanlah penghinaan terhadap seseorang, melainkan bagian dari tanggung jawab terhadap ilmu. Ilmu pengetahuan justru kehilangan daya hidup ketika status seseorang membuat gagasannya kebal dari pemeriksaan. Karena itu, keberanian mengatakan “saya tidak setuju” seharusnya menjadi salah satu keterampilan akademik yang paling penting.
Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kemajuan sering muncul ketika pengetahuan lama dipertanyakan. Banyak teori yang sekarang dianggap mapan dahulu lahir dari keberanian seseorang menolak penjelasan yang sebelumnya dianggap benar. Karena itu, produksi pengetahuan tidak cukup hanya dengan mengumpulkan informasi, menerbitkan artikel, atau memperbanyak buku. Pengetahuan membutuhkan proses pengujian, sanggahan, koreksi, dan dialog yang terus berlangsung. Masyarakat yang hanya pandai menerima pengetahuan akan menghasilkan pengikut, sedangkan masyarakat yang terbiasa menguji pengetahuan memiliki peluang lebih besar menghasilkan ilmuwan.
Persoalan ini semakin penting pada zaman kecerdasan buatan. Kini manusia dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik tanpa harus membaca buku atau menelusuri puluhan sumber secara mandiri. Masalahnya bukan semata-mata apakah jawaban AI benar atau salah, tetapi apakah manusia masih memiliki kebiasaan untuk mempertanyakan jawaban tersebut. Jika mesin semakin sering menjadi pintu pertama menuju pengetahuan, manusia harus semakin kuat dalam kemampuan memeriksa sumber, menguji argumen, dan menemukan kelemahannya. Kita jangan sampai memasuki zaman ketika manusia memiliki semakin banyak jawaban tetapi semakin sedikit pertanyaan.
Karena itu, saya tidak melihat tradisi intelektual Yahudi sebagai sesuatu yang harus disalin begitu saja. Yang patut dipelajari adalah prinsipnya: belajar sepanjang hidup, menghargai perbedaan pendapat, membiasakan dialog, dan tidak menjadikan otoritas sebagai alasan untuk berhenti berpikir. Prinsip semacam itu sebenarnya tidak bertentangan dengan tradisi keilmuan mana pun, termasuk Islam, karena pencarian ilmu membutuhkan sikap terbuka terhadap pertanyaan dan koreksi. Kita dapat tetap teguh pada identitas dan keyakinan sendiri sambil belajar dari praktik baik masyarakat lain. Keterbukaan semacam itu justru menunjukkan bahwa kita cukup percaya diri terhadap tradisi sendiri untuk belajar dari tradisi orang lain.
Pada akhirnya, saya mengagumi Yahudi bukan karena mereka selalu benar, sebab tidak ada kelompok manusia yang selalu benar. Saya mengagumi tradisi intelektual yang mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak harus dimatikan dan pertanyaan tidak harus dianggap sebagai pembangkangan. Bagi saya, inilah salah satu pelajaran penting dalam produksi pengetahuan: ilmu tumbuh bukan ketika semua orang sepakat, tetapi ketika orang memiliki keberanian untuk bertanya, menyanggah, menguji, dan memperbaiki. Di tengah pendidikan yang kadang terlalu sibuk mengejar nilai, gelar, publikasi, dan peringkat, kita perlu kembali mengingat bahwa inti dari ilmu bukanlah memiliki jawaban paling banyak. Inti ilmu adalah memiliki keberanian untuk terus bertanya ketika semua orang merasa sudah menemukan jawabannya.*
