Lensa Pos NTB, Kota Bima – Kepala Kementerian Agama Kota Bima, H. Mansyur, S.Ag, secara resmi membuka Ibnu Sina Olimpiade Competition (ISOC) Tahun 2026 yang digelar di MTsN 1 Kota Bima, pada Minggu pagi (8/2/2026). Kegiatan ini diikuti oleh siswa tingkat SD/MI se-Kota dan Kabupaten Bima dengan antusiasme yang tinggi.
ISOC 2026 merupakan ajang kompetisi akademik tahunan MTsN 1 Kota Bima, yang menjadi wadah pembinaan dan pengembangan prestasi peserta didik sejak usia dini. Sejumlah sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah turut ambil bagian dalam kompetisi ini, baik dari wilayah Kota Bima maupun Kabupaten Bima.
Ketua Panitia ISOC 2026, Hj. Siti Aisyah, S.Ag, dalam laporannya menyampaikan bahwa jumlah peserta tahun ini mencapai 847 siswa, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun rincian peserta berdasarkan mata pelajaran yakni IPA sebanyak 311 peserta, IPS 161 peserta, Pendidikan Agama Islam (PAI) 187 peserta, dan Matematika 188 peserta.
Dari sisi keikutsertaan sekolah, ISOC 2026 diikuti oleh 58 sekolah, terdiri atas 44 SD Negeri, 6 SD Swasta, 3 MI Negeri, dan 5 MI Swasta. Dari jumlah tersebut, 20 sekolah berasal dari Kabupaten Bima dan 38 sekolah dari Kota Bima.
Menariknya, peserta yang berhasil masuk 10 besar ISOC pada masing-masing mata pelajaran akan memperoleh kesempatan langsung masuk MTsN 1 Kota Bima tanpa melalui tes, dengan syarat mampu membaca Al-Qur’an.
Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Kota Bima, H. Mansyur, S.Ag, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada MTsN 1 Kota Bima yang terus konsisten menyelenggarakan ISOC. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan inisiatif yang telah Ia rintis sejak tahun 2009 saat menjabat Kepala MTsN 1 Kota Bima, dan hingga kini tetap terjaga keberlanjutannya.
“ISOC adalah ajang untuk menjaring dan membina anak-anak berprestasi. Tujuannya bukan hanya meningkatkan kualitas akademik di tingkat daerah, tetapi juga mendorong prestasi hingga tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional,” ujarnya.
H. Mansyur menegaskan bahwa ISOC tidak hanya berorientasi pada capaian akademik semata, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik. Melalui kompetisi ini, diharapkan dapat terbangun integritas, terbentuk komitmen, serta ditanamkan nilai kejujuran dalam diri setiap peserta sejak dini.
Ia menekankan bahwa prestasi yang sejati lahir dari proses yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, seluruh peserta diminta untuk mengikuti kompetisi dengan menjunjung tinggi sportivitas, menghormati aturan, dan mengandalkan kemampuan sendiri.
“Anak-anak yang berprestasi bukan hanya yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, komitmen, dan kejujuran. Inilah bekal penting untuk melahirkan generasi yang mampu bersaing dan tetap berakhlak mulia,” ujar H. Mansyur. (LP.NTB/01)
