“Ramadan Telah Pergi, Tapi Apakah Kita Ikut Kembali Kosong?”

Oleh : Abdul Syukur, ST (Dewan Pengawas Pusat – MIO Indonesia & CEO PT. Media Lensa Pos NTB)

OPINI | Lensa Pos NTB – Ramadan selalu datang sebagai tamu istimewa. Ia hadir membawa ketenangan, mengajarkan kesabaran, melatih keikhlasan, dan mengingatkan kita pada hakikat hidup yang sering terlupakan. Selama sebulan penuh, kita mampu menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, lebih sabar, lebih peduli, lebih dekat kepada Alloh SWT. Namun, kini Ramadan telah berlalu. Pertanyaannya sederhana, apakah semua kebaikan itu ikut pergi bersamanya, atau justru tinggal dan tumbuh dalam diri kita? Banyak dari kita yang saat Ramadan begitu mudah bangun malam, melantunkan doa, menahan amarah, serta ringan tangan untuk berbagi. Hati terasa lebih lembut, pikiran lebih jernih, dan langkah terasa lebih terarah. Seolah-olah kita menemukan kembali diri kita yang sebenarnya. Tapi setelah Ramadan, perlahan kebiasaan itu mulai memudar. Shalat yang dulu tepat waktu mulai tertunda, kesabaran mulai menipis, dan kepedulian mulai berkurang. Seakan-akan Ramadan hanya menjadi momen sementara, bukan titik perubahan. Padahal, sejatinya Ramadan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Ramadan adalah “madrasah kehidupan” yang melatih kita selama satu bulan penuh. Ia bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses pembentukan karakter. Jika setelahnya kita kembali seperti semula, maka kita perlu bertanya: apakah kita benar-benar belajar, atau hanya sekadar menjalani?.

Kesuksesan Ramadan bukan diukur dari seberapa khusyuk kita beribadah selama sebulan, tetapi dari seberapa kuat kita mempertahankan nilai-nilai itu di bulan-bulan berikutnya. Kita tidak harus menjadi sempurna setelah Ramadan, tapi setidaknya kita tidak kembali ke titik awal. Jika sebelumnya kita jarang beribadah, kini menjadi lebih rutin. Jika dulu mudah marah, kini lebih mampu menahan diri. Jika dulu abai, kini mulai peduli. Itulah tanda bahwa Ramadan benar-benar meninggalkan jejak dalam hidup kita. Hidup ini adalah perjalanan panjang, dan Ramadan adalah salah satu bekal terbaik. Akan sangat disayangkan jika bekal itu kita sia-siakan begitu saja. Mari kita jaga semangat yang telah kita bangun. Meski tidak seintens Ramadan, tetaplah melangkah. Sedikit tapi konsisten jauh lebih berarti daripada banyak namun hanya sesaat. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah bagaimana kita memulai Ramadan, tetapi bagaimana Ramadan mengubah kita setelah ia pergi. Jangan biarkan Ramadan hanya menjadi kenangan. Jadikan ia sebagai titik balik.

Maka hari ini, mari kita berjanji, bukan kepada siapa pun, tapi kepada diri kita sendiri, untuk tidak kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelum Ramadan. Kita mungkin tidak akan selalu kuat, tidak selalu istiqomah, dan kadang akan jatuh lagi. Tapi selama kita masih punya niat untuk bangkit, selama hati ini masih rindu untuk kembali mendekat, maka kita belum benar-benar kehilangan arah. Pelan-pelan saja, selangkah demi selangkah, kita jaga cahaya yang pernah dinyalakan di bulan Ramadan itu agar tetap hidup dalam diri kita. Karena sesungguhnya, perjalanan ini bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus berusaha menjadi lebih baik—hari ini, esok, dan seterusnya. (**)

Pos terkait