Oleh: Andi Fardian – Penerima Penghargaan Young Leader dari UNICEF PBB
OPINI | Lensa Pos NTB – Saya senang melihat Forum Anak Dompu (FAD) akhirnya dihidupkan kembali oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Dompu. Seperti yang pernah saya sampaikan pada tulisan lain, FAD adalah forum anak tertua di Indonesia. Dibentuk pada tahun 2002 atas inisiatif Plan Internasional. Saat itu, Bupati kita Ompu Beko dan Sekda Pak Sudirman (koreksi jika saya salah) langsung hadir melantik pengurus FAD.
Sejak tahun 2002 itu, FAD setiap tahun pasti menciptakan prestasi, mulai dari tingkat provinsi sampai internasional. Saat itu, Dompu mendapatkan pujian yang adil dan layak dari kabupaten dan kota lain di Indonesia. Bagaimana bisa daerah kecil di tengah Pulau Sumbawa ini beradu, berdebat ngotot, dan membuat presentasi di tingkat nasional? Banyak orang bertanya. Tapi yang pasti, saat itu peran Plan sangatlah besar. Di berbagai pertemuan anak, di berbagai level, anak-anak Dompu menunjukkan passion dan motivasi mereka untuk bersaing dengan siapa pun.
Pemda Dompu juga tetap ikut memantau. Mereka tidak tinggal diam. Aji Fu, ketika menjadi bupati, menunjukkan kebanggaan dan perhatiannya kepada FAD. Ketika kami akan ke luar negeri mewakili Indonesia, beliau dengan bangga menceritakan bahwa itu adalah prestasi anak Dompu. Ketika kami menerima penghargaan dari UNICEF PBB, beliau menyusul ke Jakarta dan mau mengantre masuk di Hotel Borobudur, tempat kami diberi penghargaan. TGB yang saat itu Gubernur NTB juga sangat bangga. Sebelum berangkat, kami sempat lapor diri. Beliau bangga karena justru anak Dompu yang mengharumkan nama NTB.
Hampir semua prestasi yang dicetak oleh anak-anak Dompu antara tahun 2002–2014, secara objektif harus diakui salah satunya karena proses perekrutan yang adil dan tidak diskriminatif yang diterapkan oleh Plan dan Pemda Dompu saat itu. Semua anak Dompu mendapatkan hak yang sama untuk berproses dan berseleksi. Tidak ada istilah anak desa–anak kota, anak unggulan–anak pelosok, atau anak pejabat–anak rakyat biasa. Semua sistem yang diciptakan benar-benar adil. Ketika misalnya ada pemilihan Duta Anak Dompu, ya, betul-betul ikut sistem. Tidak ada istilah karena dia anak sekda atau anak anggota DPRD, lalu dia yang dipilih. Kalau mau dipilih, ya, pure mengandalkan kemampuan.
Bagi saya, antara tahun 2002–2014, Dompu benar-benar memiliki inkubator prestasi anak yang adil, jelas, dan semua anak punya hak yang sama. Tetapi sejak tahun 2015–2019, sistem itu mulai rusak. Anak-anak yang dipilih mewakili Dompu bukan lagi sepenuhnya hasil seleksi yang sehat, tetapi karena kedekatan—anak atau ponakan pejabat. Akibatnya? Di sana anak-anak itu tidak menunjukkan taringnya. Kebanyakan diam, minder, dan tidak siap.
Karena itu, saya berharap FAD yang diaktifkan kembali oleh Pemda Dompu hari ini bisa kembali menjadi inkubator prestasi anak Dompu. Biar apa? Biar anak-anak Dompu kembali mencetak prestasi di tingkat yang lebih tinggi.
Lalu, apa saja yang harus dilakukan oleh Pemda Dompu agar FAD benar-benar menjadi inkubator prestasi yang adil dan jauh dari sistem diskriminatif? Berikut beberapa saran yang bisa saya berikan.
Pertama, perbaiki sistem seleksi. Harus terbuka, transparan, dan semua orang bisa mengakses informasinya. Jangan ada lagi proses diam-diam atau tiba-tiba muncul nama tanpa proses yang jelas. Salah satu kelemahan kita orang Dompu adalah membiarkan diri kita dikendalikan dan dijajah oleh kekuatan orang dalam. Akibatnya, ini merusak kualitas.
Kedua, pastikan semua anak punya kesempatan yang sama. Anak desa, anak pelosok, anak yang tidak punya “orang dalam”, semua harus diberi ruang yang sama untuk ikut dan bersaing.
Ketiga, hidupkan kembali proses pembinaan. Dulu anak-anak tidak hanya diseleksi, tapi juga dilatih, didampingi, dan ditempa. Itu yang membuat mereka berani dan siap tampil di mana saja.
Keempat, jangan biarkan ada intervensi. FAD harus steril dari kepentingan elit. Kalau ini tidak dijaga, maka yang rusak bukan hanya sistem, tapi juga mental anak-anak kita.
Kelima, bangun kembali kolaborasi seperti dulu. Libatkan lembaga, komunitas, bahkan organisasi internasional kalau bisa. Karena dari situlah dulu anak-anak Dompu banyak belajar dan berkembang.
Saya percaya, kalau ini dilakukan dengan serius, Dompu bisa kembali seperti dulu—bahkan lebih baik. Kita sudah pernah punya itu. Tinggal kita mau atau tidak mengembalikannya. Teruslah berkembang Forum Anak Dompu. (**)
