Lensa Pos NTB, Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Dayeng, menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan berbagai langkah strategis untuk memperkuat pelaksanaan Program MBG. Salah satunya adalah mengalihkan alokasi makan bergizi dari sekolah-sekolah yang dinilai mampu ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Selain itu, BGN juga akan memanfaatkan sumber pendanaan alternatif melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) serta hibah luar negeri guna menjaga keberlangsungan program tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam rangka meningkatkan efektivitas program, BGN juga menerapkan moratorium pembangunan dapur baru dan melakukan audit menyeluruh terhadap dapur-dapur MBG yang telah beroperasi. Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memenuhi standar keamanan pangan, kualitas makanan, serta tata kelola yang akuntabel. Fokus berikutnya adalah melakukan refocusing sasaran penerima manfaat dengan memprioritaskan kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta peserta didik di lingkungan sekolah.
Menanggapi langkah tersebut, Koordinator Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI), Azmi Hidzaqi, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Kepala BGN yang mengedepankan efisiensi anggaran dan penyempurnaan tata kelola Program MBG. Menurutnya, penghentian sementara distribusi makanan kepada siswa selama masa libur sekolah merupakan kebijakan yang tepat sebagai bagian dari upaya efisiensi, sehingga anggaran dapat dimanfaatkan secara lebih optimal bagi kelompok yang benar-benar membutuhkan.
Azmi menjelaskan, mayoritas masyarakat juga mendukung penyesuaian distribusi MBG menjadi lima hari dalam sepekan. Kebijakan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan efisiensi anggaran hingga sekitar Rp40 triliun, melalui pengurangan hari operasional distribusi makanan dari enam hari menjadi lima hari per minggu, disertai evaluasi terhadap skema insentif SPPG dan penyesuaian penerima manfaat agar lebih tepat sasaran.
Menurut Azmi, tujuan utama Program Makan Bergizi Gratis adalah meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, menekan angka stunting, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, LAKSI mengajak seluruh masyarakat, media, akademisi, dan aktivis untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan Program MBG agar berjalan sesuai tujuan pemerintah. “Program MBG merupakan investasi bagi masa depan generasi bangsa. Program ini harus terus dijaga, diperbaiki tata kelolanya, dan didukung bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” tegas Azmi dalam keterangan persnya.
(Redaksi Lensa Pos NTB)
