Indeks Ketahanan Pangan Kota Bima Melonjak, Tembus Kategori “Sangat Tahan”

Kota Bima, Lensa Pos NTB — Ketahanan pangan Kota Bima menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Kota Bima tahun 2025 melonjak menjadi 81,96, sekaligus mengantarkan daerah ini masuk kategori “Sangat Tahan” dan menempati peringkat ke-36 nasional untuk kategori kota. Capaian tersebut tercatat dalam dataset IKP kabupaten/kota 2025 yang menggunakan 12 indikator sebagai basis penilaian.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima, Gufran AH, S.Pd., M.Si., mengatakan kenaikan tersebut menjadi gambaran bahwa fondasi ketahanan pangan daerah secara agregat semakin kuat. Dibandingkan hasil IKP 2024 yang telah dilakukan backcasting dengan pendekatan 12 indikator, skor Kota Bima sebelumnya berada di angka 75,00 atau peringkat 108 dengan kategori 5. “Angka 81,96 menunjukkan secara agregat Kota Bima memiliki fondasi ketahanan pangan yang relatif kuat. Namun, ini tidak berarti seluruh rumah tangga dan seluruh wilayah terbebas dari persoalan pangan,” kata Gufran saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/9/2026), didampingi Pejabat Fungsional Madya Dinas Ketahanan Pangan Kota Bima, Arifin, M.Si.

Menurut Gufran, peningkatan 6,96 poin tersebut harus dibaca sebagai capaian bersama sekaligus pengingat agar pemerintah tidak lengah. IKP merupakan ukuran agregat yang menggambarkan ketahanan pangan melalui tiga aspek utama, yakni ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, serta pemanfaatan pangan. Karena bersifat agregat, angka indeks belum sepenuhnya menggambarkan kondisi setiap rumah tangga maupun kesenjangan antarwilayah. “Indeks ini merupakan gambaran kondisi wilayah secara agregat. Karena itu, kita tetap perlu melihat kondisi sampai tingkat kelurahan dan rumah tangga,” ujarnya.

Gufran menegaskan predikat “Sangat Tahan” bukan alasan untuk mengurangi kewaspadaan. Risiko kerawanan pangan tetap harus dipantau, terutama berkaitan dengan kondisi sosial-ekonomi, daya beli, produksi, harga, distribusi, kesehatan dan gizi masyarakat. Penguatan basis data hingga tingkat kelurahan dinilai penting agar kelompok rentan dapat diidentifikasi dan mendapat intervensi secara tepat. Di sisi lain, pemerintah juga perlu memperkuat cadangan pangan, menjaga stabilitas pasokan dan harga, mendorong produksi pangan lokal serta memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi.

Capaian IKP 2025 menjadi modal penting bagi Kota Bima untuk melangkah lebih jauh dalam membangun ketahanan pangan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Diversifikasi pangan juga perlu terus didorong agar ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada beras, tetapi mencakup protein, sayuran, buah dan berbagai pangan lokal bergizi.

“Ketahanan pangan bukan kondisi yang permanen. Perubahan harga, produksi, cuaca, daya beli masyarakat, kemiskinan, kesehatan dan gizi dapat memengaruhi kondisi pangan masyarakat,” tegas Gufran. Dengan skor 81,96, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan angka, tetapi memastikan ketahanan pangan tersebut benar-benar terasa hingga tingkat rumah tangga. (Editor: Abdul Syukur, ST)

Pos terkait