Oleh: Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.) – Pengamat Sosial Politik
Lensa Pos NTB, OPINI – Apa tujuan sekolah? Untuk mendapatkan pekerjaan. Kalau mau jujur dan realistis, bahwa tujuan utama orang sekolah setinggi gunung adalah untuk bekerja dan mencari uang. Persoalan beramal itu urusan lain dan bisa jadi urusan yang kesekian.
10 dari 10 orangtua mengharapkan anaknya langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Bisa jadi untuk mengganti biaya banyak yang sudah dikeluarkan atau orangtua tidak mau lagi bertanggungjawab atas segala kebutuhan anak yang sudah menjadi orang dewasa itu. Bahkan, orangtua yang kaya sekalipun mengharapkan anaknya memiliki pengalaman bekerja untuk meng-handle usaha keluarga. Justru, kata teman saya yang orangtuanya kaya turun-temurun, mereka dididik untuk mandiri sejak awal. “Gak boleh seenaknya saja mengambil alih usaha dan kekayaan orangtua,” kata teman itu.
Jadi, sebanyak apapun gelar akademik yang disandang oleh seseorang, kalau tidak bisa dipakai untuk mendapatkan pekerjaan, maka gelar-gelar tersebut tidak akan terlalu berguna. Orang boleh tidak setuju dengan apa yang saya katakan, tapi kalau mau jujur, begitulah faktanya. Factos!
Dunia makin realistis. Jadi, tak bisa kita berdalih bahwa tujuan sekolah adalah untuk berbuat baik. Orang sekolah dan mendapatkan gelar adalah untuk bekerja demi mencapai kesejahteraan hidup.
Hanya saja tidak semua fresh graduate atau sarjana baru lulus dan juga sarjana lama langsung mendapatkan pekerjaan. Sebagian dari mereka ada yang ditolak ketika melamar pekerjaaan. Banyaknya sarjana yang ditolak linear dengan peningkatan angka pengangguran.
Apa yang menyebabkan banyak sarjana menjadi pengangguran? Pertama, mereka minim pengalaman kerja. Ketika melamar di sebuah perusahaan, mereka ditolak. Bahkan pada tahap pemberkasan. Ditolaknya mereka disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah minim atau kosongnya portofolio pada CV mereka. Kebanyakan sarjana akan mengisi CV dengan pengalaman-pengalaman organisasi yang mereka ikuti sewaktu kuliah. Itu tidak banyak berguna untuk melamar kerja.
Yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah pengalaman bekerja atau magang. Pengalaman part-time pun tidak masalah. Bukan pengalaman organisasi. Kalau Anda mau menjadi politisi, bisa saja pengalaman organisasi dan keterampilan Anda berbicara akan berguna. Tapi kalau di perusahaan, keterampilan berbicara tidak cukup meyakinkan pemilik perusahaan untuk menerima Anda sebagai karyawannya. Anda perlu memiliki skill tertentu agar bisa diterima. Pintar ngomong juga tidak cukup untuk bersaing.
Kedua, tidak mau keluar dari zona nyaman. Kebanyakan mahasiswa mengisi waktu mereka dengan kuliah, tok. Sebagiannya lagi mengikuti organisasi. Tapi hanya sebagian kecil yang mau bekerja part-time atau berwirausaha. Mereka terlalu nyaman dengan status mereka yang masih disubsidi oleh orangtua. Mereka juga dininabobokan oleh angan bahwa begitu lulus kuliah, langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan mereka. Tapi hidup tidaklah seindah angan-angan itu. Keengganan untuk mengasah dan mencari pengalaman kerja membuat mereka kikuk dan panik ketika dihadapkan pada persaingan kerja. Maka ketika tidak mampu bersaing, gugur dan tersingkirkan, mereka menjadi pengangguran.
Ketiga, setelah lulus balik ke daerah. Sebagian sarjana pulang ke daerah asal. Dalih mereka adalah membangun daerah. Tapi ketika balik ke daerah, mereka tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, alih-alih menjadi honorer. Cara pandang tentang membangun daerah harus diperluas. Membangun daerah tidak harus balik ke kampung halaman. Tetap di daerah orang dan bekerja lebih baik daripada balik ke daerah asal dan menjadi pengangguran. Ketika pulang ke daerah asal dan menjadi pengangguran, Anda justru menjadi beban pemerintah daerah Anda. Saat ini, hujan emas di negeri orang tetap lebih enak dari hujan batu di negeri sendiri.
Keempat, gensi untuk bekerja serabutan. Salah satu penyakit sebagian orang Indonesia adalah gengsi jika bekerja serabutan. Bekerja serabutan dianggap dapat merusak harga diri. Sebagian sarjana malu dan gengsi kalau melakukan pekerjaan kecil-kecilan. Mereka menganggap itu dapat menurunkan harga diri. Tapi pertanyaannya: apakah menjadi pengangguran tidak lebih menurunkan harga diri? Lagipula kalau bicara harga diri, harga diri yang mana? Hidup jauh lebih besar dari sekadar malu dan harga diri.
Kelima, tak mau berinovasi. Selesai wisuda, mereka tak mau bekerja di sektor swasta. Bagi mereka, bekerja di sektor swasta menurunkan harga diri. Jadi, tunggu tes CPNS saja. Hanya saja apa tak malu umur sudah dewasa tapi masih bergantung pada orangtua? ‘Kan belum tentu begitu ikut tes, langsung lulus. Mereka tak mau berinovasi untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri. Pada rentang waktu antara wisuda sampai dibukanya tes CPNS, mereka menjadi pengangguran.
Keenam, tidak mau pekerjaan yang gajinya rendah. Sebagian sarjana menganggap diri mereka sudah hebat sehingga tak mau menerima pekerjaan yang gajinya rendah. Padahal, untuk mencapai gaji yang tinggi diperlukan proses dan perjuangan. Perlu dari bawah, bro dan sist! Jangan nge-sok langsung mau digaji tinggi. Lagipula, minta gaji tinggi itu apakah sudah sepadan dengan keterampilan yang dimiliki? IPK yang tinggi tidak menjamin Anda punya keterampilan. Pilih mana: menjadi pengangguran atau menerima pekerjaan dengan gaji rendah?
Saya kira setidaknya enam hal di atas yang menyebabkan banyak sarjana menjadi pengangguran. Bekerja dengan gaji rendah atau berjualan kecil-kecilan lebih baik dan tehormat daripada menganggur. Jangan gengsi. (**)
