Kota Bima, Lensa Pos NTB — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima bersama Forum Komunikasi Gereja-Gereja (FKGK) Kota Bima menggelar pertemuan kolaboratif di Aula FKUB Kota Bima, Jumat (17/4/2026).
Kegiatan ini dihadiri Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Bima beserta staf, Ketua FKUB Kota Bima H. Furqan Ar Roka, Wakil Ketua FKUB H. Adnan, SH, MH, Ketua FKGK Kota Bima Charles Pangaribuan, serta jajaran pengurus dan perwakilan lintas agama.
Pertemuan tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi antarumat beragama sekaligus membahas berbagai persoalan sosial yang tengah berkembang di Kota Bima.Salah satu isu yang menjadi perhatian serius adalah fenomena anak-anak penjual kacang di sejumlah lampu merah. Selain memprihatinkan dari sisi sosial, perilaku sebagian anak yang terkesan memaksa bahkan melakukan tindakan tidak terpuji seperti memukul atau menggores kendaraan saat dagangan tidak dibeli, dinilai perlu segera mendapat perhatian bersama.
Para peserta sepakat bahwa persoalan ini membutuhkan pendekatan komprehensif dengan melibatkan pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat. Di sisi lain, forum juga menegaskan pentingnya menjaga dan mempertahankan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan beragama.
Komitmen untuk saling menghormati dan menjaga keamanan dalam perayaan hari besar keagamaan kembali ditegaskan sebagai fondasi utama kerukunan di Kota Bima.
Wakil Ketua FKUB, H. Adnan, SH, MH, dalam penyampaiannya menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghalang bagi FKUB untuk terus berkontribusi bagi masyarakat. “Walaupun tanpa dukungan anggaran yang memadai, semangat untuk memberi dampak positif bagi daerah harus tetap dijaga,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perkembangan positif di dunia pendidikan, khususnya di Universitas Muhammadiyah Kota Bima yang kini semakin inklusif. Kehadiran mahasiswa dari berbagai latar belakang agama dinilai menjadi indikator meningkatnya toleransi dan keterbukaan di lingkungan akademik.
Sementara itu, Ketua FKGK Kota Bima, Charles Pangaribuan, menyampaikan apresiasi kepada FKUB atas keterlibatannya dalam pengamanan perayaan Natal tahun 2025 hingga awal tahun 2026. Menurutnya, kolaborasi tersebut memberikan rasa aman dan nyaman bagi umat Kristiani dalam menjalankan ibadah.
Namun demikian, ia juga menyoroti persoalan parkir liar di sejumlah titik yang dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat. Praktik parkir yang terkesan memaksa menjadi perhatian bersama untuk segera ditertibkan.
Ketua FKUB Kota Bima, H. Furqan Ar Roka, turut mengungkapkan bahwa bantuan dari PT Pelindo yang telah disalurkan kepada umat beragama terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hal ini menjadi contoh pentingnya kolaborasi antara lembaga keagamaan dan pihak swasta dalam mendukung kehidupan sosial yang harmonis.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan PGID Kota Bima menyampaikan komitmennya dalam mempromosikan Kota Bima hingga ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), yang merupakan tanah kelahirannya. Ia mengungkapkan bahwa banyak masyarakat dari NTT yang memilih melanjutkan pendidikan tinggi di Kota Bima, termasuk di sejumlah perguruan tinggi swasta, yang menunjukkan daya tarik daerah ini sebagai pusat pendidikan.
Sementara itu, Ketua PHDI Kota Bima, Bapak Putu, menjelaskan bahwa dalam perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu tidak memerlukan pengamanan khusus karena seluruh umat menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran untuk tetap berada di rumah dan menjaga ketenangan.
Meski demikian, ia mengungkapkan adanya persoalan keamanan di lingkungan pura, khususnya di wilayah Kampung Dara, yang kerap mengalami kehilangan kabel.
Lebih lanjut, Bapak Putu juga menyoroti pentingnya kebijakan dalam penerimaan formasi guru, khususnya CPNS, agar memprioritaskan putra-putri daerah Kota Bima. Hal ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan tenaga pendidik, terutama guru agama non-Muslim seperti Kristen dan Hindu, yang saat ini masih sangat dibutuhkan.
Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi lintas agama, sekaligus menghadirkan solusi bersama terhadap berbagai persoalan sosial demi terciptanya Kota Bima yang harmonis, aman, dan penuh toleransi. (TIM)
