BIMA, LENSA POS NTB — Jalan Talabiu–Dore, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, setiap Minggu menjelma menjadi pusat keramaian ekonomi rakyat. Ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menggelar dagangan, sementara ribuan masyarakat datang untuk menikmati suasana Car Free Day (CFD). Di balik geliat tersebut, Camat Woha, Irfan, S.Sos., menyimpan gagasan lebih besar: mengembangkan kawasan ini menjadi destinasi agrowisata buah, sayuran, dan ikan air tawar yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Berdasarkan pantauan langsung Lensa Pos NTB di lokasi, Minggu (11/10/2026), aktivitas perdagangan berlangsung ramai. Berbagai lapak menawarkan makanan, minuman, dan aneka produk kepada pengunjung yang memadati kawasan CFD. Kegiatan yang digagas Camat Woha ini tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk berolahraga dan bersilaturahmi, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produk serta meningkatkan pendapatan keluarga. Kehadiran ribuan pengunjung setiap pekan menjadi potensi pasar yang menjanjikan bagi usaha lokal.
Momentum CFD kali ini juga mendapat perhatian dari jajaran pimpinan BAZNAS Kabupaten Bima. Rombongan komisioner BAZNAS hadir untuk melihat langsung aktivitas masyarakat dan geliat UMKM di kawasan tersebut. BAZNAS Kabupaten Bima saat ini dipimpin Drs. A. Zubair H. AR sebagai Ketua, didampingi H. Hamid, S.H., Wakil Ketua I; Ahmadin, S.H., LLM., Wakil Ketua II; Drs. H. Fahrir, Wakil Ketua III; serta Wahidin, S.HI., Wakil Ketua IV. Kehadiran jajaran pimpinan BAZNAS di tengah aktivitas ekonomi rakyat menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap pemberdayaan UMKM dan pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
CFD Talabiu–Dore memperlihatkan bahwa ruang publik dapat memiliki nilai lebih ketika dikelola sebagai penggerak ekonomi lokal. Ratusan pedagang memperoleh kesempatan berjualan, masyarakat mendapatkan ruang aktivitas bersama, dan pemerintah kecamatan memiliki peluang untuk mengembangkan potensi wilayah melalui gagasan agrowisata.
Tantangan berikutnya adalah memastikan rencana tersebut mendapat dukungan, penataan kawasan, fasilitas yang memadai, serta keterlibatan pelaku UMKM dan kelompok tani maupun pembudidaya ikan. Jika CFD menjadi pemantik, maka agrowisata buah, sayur, dan ikan air tawar berpotensi menjadi langkah berikutnya untuk membawa ekonomi Woha tumbuh lebih luas dan berkelanjutan. (Editor: Abdul Syukur, ST)








