Tahun Baru, Timbulan Sampah Meningkat: LDII Menawarkan Cara Berbeda

Oleh: Bambang Supriadi
Biro LISDAL DPW LDII Provinsi NTB

Pergantian tahun sejatinya adalah momen muhasabah, saat manusia berhenti sejenak, menengok perjalanan waktu yang telah dilalui, lalu menata niat untuk hari esok yang lebih baik. Dalam perspektif keimanan, pergantian waktu bukan sekadar perubahan angka di kalender, melainkan pengingat bahwa usia terus berkurang dan amanah sebagai khalifah di bumi terus berjalan.

Namun dalam praktik kehidupan modern, makna pergantian tahun kerap bergeser. Malam tahun baru lebih sering dimaknai sebagai perayaan euforia dan hiburan semata. Tanpa disadari, cara kita merayakan waktu justru melahirkan persoalan baru, salah satunya adalah meningkatnya timbulan sampah yang berdampak langsung pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Pergantian Tahun dan Tantangan Sampah Nasional.

Pergantian tahun selalu menjadi momen penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Di banyak tempat, malam tahun baru dirayakan dengan kemeriahan: kembang api, pesta makanan, hiburan, dan keramaian di ruang publik. Namun, di balik euforia tersebut, ada persoalan besar yang hampir selalu mengikutinya, yaitu lonjakan timbulan sampah.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara konsisten mencatat bahwa hari besar, libur panjang, dan perayaan massal merupakan penyumbang signifikan peningkatan sampah, terutama di wilayah perkotaan dan kawasan wisata. Sampah plastik sekali pakai, botol minuman, sisa makanan, serta atribut pesta menjadi pemandangan yang berulang setiap awal tahun.

Dalam salah satu pernyataan resminya, KLHK menegaskan bahwa: “Pengendalian sampah paling efektif adalah dari hulu, yaitu perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi konsumsi dan membatasi penggunaan produk sekali pakai.” Pernyataan ini sejalan dengan prinsip dakwah LDII yang menekankan perubahan perilaku, keteladanan, dan pembiasaan hidup disiplin, termasuk dalam urusan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Data Membuktikan: Sampah Tahun Baru Terus Meningkat.

Fenomena lonjakan sampah saat malam tahun baru bukan asumsi, melainkan fakta berbasis data. Di Jakarta, misalnya, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta mencatat timbulan sampah malam tahun baru 2025 mencapai sekitar 132 ton, meningkat dibanding tahun sebelumnya (Antara, 1 Januari 2025). Angka ini bahkan diperkirakan dapat mencapai 150 ton jika titik keramaian bertambah.

Secara nasional, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa timbulan sampah Indonesia mencapai puluhan juta ton per tahun, dengan sekitar 66 persen belum terkelola secara optimal. Kondisi ini memperberat beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang sebagian besar masih menggunakan sistem open dumping.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah adalah tantangan bersama, yang tidak cukup diselesaikan hanya dengan teknologi dan kebijakan, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat dan organisasi sosial – keagamaan.
LDII dan Pilihan Sadar Menyambut Tahun Baru
Di tengah arus perayaan yang cenderung konsumtif, LDII memilih jalan yang berbeda.

Melalui pengajian akhir tahun, LDII menghadirkan alternatif kegiatan yang lebih bermakna, tertib, dan ramah lingkungan. Pengajian akhir tahun yang menjadi agenda tahunan LDII tidak dimaknai sebagai sekadar kegiatan rutin keagamaan, tetapi sebagai sarana muhasabah dan evaluasi diri, penguatan nilai ibadah dan akhlak, sekaligus bentuk kontribusi nyata LDII dalam mengurangi timbulan sampah.

Tanpa pesta berlebihan, tanpa trompet plastik, tanpa petasan, dan tanpa konsumsi yang menghasilkan residu besar, pengajian akhir tahun LDII menjadi contoh nyata bahwa perayaan tidak harus identik dengan pemborosan.

Pengajian Akhir Tahun LDII dan Pengurangan Sampah dari Hulu.

Jika ditelaah lebih jauh, pengajian akhir tahun LDII secara langsung menerapkan prinsip reduce dalam konsep 3R (Reduce, Recycle, Reuse). Beberapa praktik baik yang terlihat antara lain: (1) Tidak menggunakan atribut pesta sekali pakai; (2) Konsumsi makanan yang sederhana dan terkontrol; (3) Jamaah disiplin menjaga kebersihan lokasi; (4) Kesadaran kolektif untuk tidak meninggalkan sampah. Dengan demikian maka praktik pengelolaan sampah dijalankan sesuai aturan yang berlaku.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa LDII tidak hanya berdakwah melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan perilaku. Sampah dikurangi bukan setelah menumpuk, melainkan dicegah sejak awal. Seorang pengamat kebijakan lingkungan menyebutkan bahwa: “Pendekatan berbasis nilai dan komunitas sering kali lebih efektif mengubah perilaku dibandingkan pendekatan sanksi semata.” Dalam konteks ini, pengajian akhir tahun LDII adalah bentuk dakwah bil hal, dakwah melalui tindakan nyata.

Nilai Keagamaan sebagai Fondasi Kepedulian Lingkungan.

Prinsip menjaga lingkungan sejatinya sejalan dengan ajaran agama. Prof. Emil Salim pernah menegaskan bahwa: “Kerusakan lingkungan tidak semata-mata disebabkan oleh teknologi, tetapi oleh cara pandang manusia terhadap alam.” Pandangan ini relevan dengan pola perayaan akhir tahun. Ketika manusia menempatkan kesenangan sesaat di atas tanggung jawab, maka sampah menjadi konsekuensi logis. Namun, ketika perayaan dimaknai sebagai refleksi dan pengendalian diri, maka dampak lingkungan dapat ditekan.

Hal ini juga sejalan dengan pandangan Quraish Shihab yang menekankan bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Merusak lingkungan berarti mengingkari amanah tersebut. Melalui pengajian akhir tahun, LDII secara tidak langsung menanamkan nilai kesederhanaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab ekologis kepada warganya.

Kontribusi LDII bagi Agenda Lingkungan Nasional
Apa yang dilakukan LDII melalui pengajian akhir tahun sejatinya sejalan dengan agenda nasional dalam pengurangan sampah. Pemerintah mendorong pengurangan sampah dari sumber, sementara LDII telah mempraktikkannya melalui pembiasaan perilaku warga.

Dengan basis massa yang besar dan struktur organisasi yang rapi hingga tingkat bawah, LDII memiliki potensi strategis sebagai mitra pemerintah dalam edukasi dan pengendalian sampah berbasis komunitas. Pengajian, pengurus, dan warga LDII dapat menjadi agen perubahan lingkungan di lingkungannya masing-masing.

Refleksi Akhir Tahun: Dakwah, Keteladanan, dan Lingkungan.

Akhir tahun sejatinya bukan hanya tentang pergantian angka di kalender, melainkan momen muhasabah untuk menata kembali arah kehidupan. Ia menjadi ruang jeda untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan, sekaligus memperbaiki niat dan perilaku ke depan. Dalam konteks ini, refleksi tidak berhenti pada aspek spiritual semata, tetapi juga menyentuh tanggung jawab manusia terhadap lingkungan sebagai bagian dari amanah kehidupan.

Pengajian akhir tahun yang diselenggarakan LDII menghadirkan makna tersebut secara nyata. Dakwah tidak diposisikan semata-mata sebagai rangkaian ceramah panjang, tetapi diwujudkan melalui praktik hidup yang tertib, sederhana, dan penuh kesadaran. Jamaah diajak beraktivitas di malam pergantian tahun dengan memperkuat ibadah, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Keteladanan menjadi kunci utama dalam pendekatan ini. Tanpa euforia berlebihan, tanpa konsumsi yang melampaui kebutuhan, dan tanpa atribut perayaan sekali pakai, pengajian akhir tahun LDII secara langsung mengurangi potensi timbulan sampah. Pola ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat dimulai dari pilihan sederhana yang dilakukan secara kolektif dan konsisten.

Ketika banyak pihak disibukkan dengan membersihkan sisa pesta dan menanggung beban sampah pasca-perayaan, LDII justru mengambil langkah pencegahan sejak awal.

Sampah tidak menumpuk karena tidak diciptakan. Inilah esensi pengelolaan lingkungan dari hulu, sebuah pendekatan yang sejalan dengan kebijakan nasional pengurangan sampah dan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Dalam konteks inilah, peran Departemen Litbang, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hisup LDII menjadi sangat strategis.

Departemen LISDAL tidak hanya berfungsi sebagai penggerak program lingkungan, tetapi juga sebagai penguat kesadaran warga LDII agar nilai-nilai keimanan tercermin dalam perilaku ramah lingkungan. Melalui edukasi, pembiasaan, dan keteladanan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, LISDAL mendorong agar setiap aktivitas warga LDII, termasuk dalam momentum pergantian tahun selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

Lebih dari sekadar kegiatan rutin, pengajian akhir tahun LDII dapat dibaca sebagai kontribusi nyata organisasi dalam menjawab tantangan lingkungan. Melalui dakwah bil-hal yang diperkuat peran LISDAL, LDII menunjukkan bahwa nilai keimanan, kedisiplinan, dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan. Praktik baik ini patut dicatat, diperkuat, dan dikembangkan sebagai inspirasi bagi masyarakat luas dalam membangun budaya hidup yang lebih bertanggung jawab, tertib, dan berkelanjutan.
Penutup: LDII dan Masa Depan Lingkungan.

Di tengah krisis sampah yang semakin nyata, Indonesia membutuhkan lebih banyak teladan, bukan sekadar imbauan. LDII telah menunjukkan bahwa perubahan perilaku itu mungkin dan dapat dimulai dari komunitas sendiri.

Mengadakan pengajian akhir tahun bukan hanya memperkuat iman dan akhlak, tetapi juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan. Karena masa depan yang bersih tidak lahir dari perayaan yang meriah, melainkan dari pilihan hidup yang sadar, disiplin, dan bertanggung jawab. Perubahan yang nyata dimulai dari pilihan sederhana: merayakan hidup tanpa mengorbankan bumi. LDII telah memulai, tinggal bagaimana praktik baik ini terus diperluas dan diteladani. (**)

Pos terkait

banner 468x60