Peluang dan Tantangan Kopi Tambora (1)
Lensa Pos NTB, Dompu – Di penghujung tahun 2025 lalu, Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu menggelar Festival Kopi Tambora, Tembakau dan Muna Pa’a. Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dompu itu berlangsung di Lapangan Karijawa selama 2 hari yakni Senin dan Selasa (29 dan 30 Desember 2025).
Kegiatan itu dibuka Bupati Dompu yang diwakili Pj. Sekda H. Khaerul Insyan.
Pada hari pertama, usai persembahan tarian pembukaan festival, dilanjutkan dengan Parade Muna Pa’a. Bakda Isya berlangsung Lomba Seduh Kopi. Pesertanya anak-anak muda kreatif. Tim juri terdiri dari 3 orang. Salah satunya Agus Miswara. Birokrat muda yang kini menjabat Kabag Prokopim Setda Dompu itu termasuk penikmat kopi. Di ruang kerjanya bahkan disediakannya alat peracik lengkap dengan aneka jenis kopi. Para tamu dipersilakan menikmati kopi sesuai selera.
Pada tulisan ini, redaksi menulis secara spesifik tentang kopi tambora. Mengenai tembakau dan muna pa’a akan diulas pada edisi berikutnya.
Kopi Tambora komoditas unggulan sebagai kebanggaan masyarakat Dompu. Kopi ini ditanam di lereng Gunung Tambora, sebuah gunung berapi yang letusannya tahun 1815 silam terdampak hingga ke Bemua Eropa.
Kopi ini dibudidayakan oleh para petani yang tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Tambora.
Kopi Tambora sudah ditanam sejak zaman Belanda. Sejak itu, cara menanam dan mengolah kopi diwariskan secara turun-temurun dari orang tua kepada anak-anak mereka hingga sekarang.
Kopi Tambora tumbuh pada ketinggian 370-750 meter di atas permukaan laut. Daerah ini memiliki tanah vulkanik dari Gunung Tambora yang subur, serta iklim tropis dengan musim hujan dan musim kemarau yang jelas. Kondisi alam ini sangat cocok untuk tanaman kopi.
Jenis kopi yang ditanam adalah robusta dan arabika. Kopi Tambora dikenal memiliki rasa yang enak dan khas, seperti cokelat, kacang, dan aroma kayu. Kopi ini diolah menjadi kopi biji (green bean), kopi sangrai, dan kopi bubuk.
Saat ini, kopi tambora menjadi produk unggulan daerah, sumber penghidupan petani dan kebanggaan masyarakat Dompu yang harus dilestarikan bersama.
Pj. Sekda Dompu, H. Khaerul Insyan menyampaikan letusan Gunung Tambora yang dahsyat pada tahun 1815 membawa hikmah. Tanah vulkanik yang subur menghasilkan kopi dengan karakter rasa dan aroma khas, berkualitas premium, dan memiliki peluang besar menembus pasar nasional hingga ekspor.
“Kopi tambora bukan hanya produk pertanian, tetapi juga bagian dari identitas dan cerita besar Dompu,” ungkap birokrat senior yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Energi pada masa Bupati H. Bambang M. Yasin itu.
Bupati Bambang Firdaus yang berkesempatan hadir pada acara Talkshow pada Senin malam (29/12/2025 itu menjelaskan nama besar Gunung Tambora ada di belakang kopi spesial tersebut. Tidak mengherankan jika permintaan terhadap kopi tambora kian meningkat bahkan sampai ke luar negeri. “Mancanegara kini tengah melirik kopi tambora,” ucap Bupati yang berlatar belakang pengusaha ini.
Bupati BBF mengajak kaum muda Dompu untuk bangga dengan kopi tambora dan berbagai potensi lainnya yang ada di daerah bermoto Nggahi Rawi Pahu itu.
“Potensi yang kita miliki harus kita jaga dan lestarikan,” pintanya.
Ke depan, lanjutnya, Pemda Dompu melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan akan terus memperluas areal penanaman kopi tambora. Sedangkan melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan terus mendukung keberadaan kedai-kedai kopi yang kini terus meningkat dan dilakoni anak-anak muda kreatif.
Kadisperindag H. Armansyah mengungkapkan luas lahan kopi lebih dari 1.500 Ha dengan produksi 824 ton per tahun. “Produksi kita nomor 2 dari Sumbawa Besar,” ungkapnya.
Disebutnya nama besar Tambora menjadi daya tarik tersendiri hingga menjangkau pangsa pasar yang lebih luas. Kopi khas dari lereng Tambora ini memiliki cita rasa yang berbeda. “Inilah yang harus kita gaungkan terus bahwa kopi tambora berbeda dengan kopi yang lain,” ujarnya.
Pada momen tersebut, Ketua ASKI (Asosiasi Kopi Indonesia) Kabupaten Dompu, Muhdar mengulas tentang peluang dan tantangan kopi tambora.
‘Data yang saya peroleh bahwa tingkat per kapita konsumsi kopi dunia maupun nasional cenderung meningkat,” bebernya.
Kenapa memingkat? Salah satu faktornya bahwa ngopi ini sudah menjadi gaya hidup generasi muda masa kini.
“Kalau zaman 80-an 90-an yang ngopi ini orang-orang tua dan para petani. Kalau di kota, ngopi dianggap kampungan. Sekarang ini para penikmat kopi dan peraciknya sudah merambah kepada anak-anak muda, mahasiswa dan pelajar sudah menikmati kopi,” paparnya.
Owner Ori Coffee ini menyebutkan seiring dengan peningkatan konsumsi kopi, kian meningkat pula permintaan pasar baik di level nasional hingga internasional. Apalagi kondisi gagal panen yang dialami petani kopi di Brasil dan Vietnam juga memengaruhi besarnya permintaan pasar internasional terhadap kopi nusantara.
Teristimewa bagi kopi robusta tambora, bahwa terjadinya iklim dingin yang dialami penduduk di Eropa Barat berpengaruh pada meningkatnya permintaan pasar. Iklim yang dingin membuat mereka membutuhkan kafein yang terkandung dalam kopi robusta.
“Mereka yang sebelumnya mengonsumsi kopi arabika berkafein rendah, kini beralih ke kopi robusta yang berkafein tinggi,” jelasnya.
Dosen di STKIP Yapis Dompu ini mengungkapkan 3 tahun terakhir ini harga kopi menaik.
Kopi asalan yang semula masih di bawah Rp 20 ribu per kilogram, melonjak hingga 50 ribu ke atas. Tak terkecuali biji kopi berkualitas specialty (grade 1) dan premium (grade 2), juga mengalami kenaikan. Kualitas premium harganya kini di atas 70 ribu per kilogram. Sedangkan specialty dari sebelumnya paling tinggi 40 ribu, kini melonjak jadi 120 ribu per kilogram.
Di balik peluang-peluang itu, kata ‘Ory’ Muhdar, ada juga tantangannya. Alih fungsi lahan untuk penanaman jagung berdampak pada hilangnya ribuan tanaman kopi tambora.
Menurutnya,, langkah petani melakukan alih fungsi lahan dengan menanam jagung salah perhitungan. Tanaman kopi jauh lebih menguntungkan dari segi ekonomi ketimbang jagung.
“Ketika harga kopi naik 3 tahun terakhir ini banyak yang menyesal,” katanya.
Tantangan lain yakni usia kopi tambora yang sudah tua memengaruhi produksi kopi. Solusinya perlu dilakukan upaya-upaya regenerasi (peremajaan).
Lebih lanjut Muhdar mengemukakan ada misi mulia di balik usaha kopi tambora. Pertama, memperkenalkan daerah Dompu lewat kopi tambora;
Kedua membebaskan petani dari pengijon yang merugikan;
Ketiga, misi konservasi.
Doktor di bidang lingkungan ini menerangkan secara lugas mengenai manfaat tanaman kopi secara ekologi. Tanaman kopi berfungsi penting dalam konservasi tanah (mencegah erosi) karena sistem perakarannya yang kuat. Selain itu, tanaman kopi bisa hidup berdampingan dengan tanaman pelindung. Keberadaan tanaman lain tidak menjadi gangguan bagi kopi. Hal.ini sangat berbeda dengan tanaman jagung yang tidak bisa tumbuh dengan baik jika berdampingan dengan tanaman lain. Itulah sebabnya sehingga tanaman jagung merugikan dari sisi pelestarian lingkungan.
“Tanaman kopi berbeda dengan jagung. Jagung tidak membutuhkan adanya tanaman lain. Sedangkan kopi membutuhkan tanaman pelindung. Ini yang kami kampanyekan,” tuturnya.
Muhdar berharap ada diskusi lebih lanjut dengan Bupati Dompu terkait program konservasi ini mengingat hutan-hutan di Dompu banyak mengalami kerusakan parah akibat penanaman jagung. Salah satunya program konservasi di wilayah Dompu timur guna mencegah terjadinya banjir di kawasan perkotaan.
Disebutnya wilayah Dompu Timur seperti O’o, Karamabura hingga Saneo cocok untuk penanaman kopi yang dapat berfungsi secara ekonomi maupun ekologi.
Muhdar kemudian menguraikan bicara soal kopi harus dimulai dari hulu ke hilir. Di tingkat hulu Dinas Pertanian dan Perkebunan perlu mengedukasi petani agar kualitas kopi yang dihasilkan memenuhi grade sesuai permintaan pasar.
“Bila grade kopi yang dihasilkan memenuhi standar, maka tidak mengalami kesulitan dalam hal pemasaran,” ulasnya.
Tingginya permintaan kopi tambora baik dalam negeri hingga mancanegara menjadi peluang besar bagi keberlanjutan usaha penanaman dan pemasaran kopi. Kontinuitas produk kopi berkualitas masih menjadi tantangan yang harus diatasi. (emo).






