Oleh : Abdul Sukur, ST – Jurnalis
Lensa Pos NTB – Di bawah sengatan matahari yang membakar tanah Bima, deru cangkul yang menghantam bumi, pecah oleh gelak tawa yang bersahut-sahutan. Tak ada sekat, tak ada jarak. Seragam loreng yang basah kuyup oleh keringat tampak menyatu dengan kaos lusuh para petani. Inilah potret keseharian di desa sasaran TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 1608/Bima. Di sini, kemanunggalan bukan sekadar jargon di atas baliho, melainkan denyut nadi yang nyata.
Visi Sang Komandan: Membangun dengan Hati
TMMD ke-127 tahun 2026 ini bukan hanya tentang memindahkan batu atau mengaspal jalan. Di bawah komando Dandim 1608/Bima selaku Komandan Satgas, Letkol Arh. Samuel Asdianto Limbongan, S. Kom, M. Sc, program ini diletakkan di atas fondasi kemanusiaan yang dalam.
“TMMD adalah wajah nyata kehadiran negara di tengah kesulitan rakyat. Kami datang bukan sebagai instruktur, tapi sebagai saudara yang pulang ke rumah untuk membantu keluarganya,” ujar Letkol Arh. Samuel dalam sebuah kesempatan meninjau lokasi. Perwira menengah dengan gelar akademik mumpuni ini menekankan bahwa setiap jengkal jalan yang dibuka harus menjadi urat nadi ekonomi yang menghidupkan harapan warga.
Ibarat Dua Sisi Mata Koin
Filosofi “TNI Lahir dari Rakyat” teruji secara empiris di lapangan. Prajurit Kodim 1608/Bima tidak hanya mengejar target persentase fisik, tetapi juga membangun “jembatan emosional”. Mereka menginap di rumah penduduk, makan di meja yang sama, dan bercengkerama di bawah sinar lampu templok saat malam tiba.
Hubungan ini ibarat dua sisi mata koin yang tak terpisahkan. TNI membutuhkan dukungan moral rakyat untuk menjaga kedaulatan, sementara rakyat merasakan kehadiran TNI sebagai pelindung sekaligus motor penggerak pembangunan.
Jejak Bakti di Lima Desa
TMMD kali ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun asa bagi warga di pelosok. Secara spesifik, pengerjaan fisik tersebar di lima titik krusial di lima Desa di Kecamatan Monta Kabupaten Bima, yakni Desa Waro, Desa Sondo, Desa Tanggabaru, Desa Tolouwi dan Desa Tolotangga.
Desa Waro: Menjadi saksi kepedulian sosial TNI melalui pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan pembangunan MCK di Masjid Ainun Yaqin demi meningkatkan standar kesehatan dan kenyamanan ibadah warga. Desa Sondo: Semangat gotong royong tercurah pada pembukaan jalan tani sepanjang 700 meter, yang akan memangkas beban transportasi hasil panen para petani.
Desa Tanggabaru: Pengerjaan masif dilakukan mulai dari pembukaan jalan tani sepanjang 111 meter, pemasangan talud, hingga pembangunan jembatan penghubung menuju SMK Kelautan yang menjadi akses vital bagi pendidikan generasi muda.
Desa Tolouwi: TNI menghadirkan solusi air bersih melalui pengeboran air di depan Masjid Al-Muttaqim, serta penguatan infrastruktur berupa pemasangan talud dan jalan tani sepanjang 72 meter. Desa Tolotangga: Fokus pada kenyamanan tempat ibadah dengan melakukan pemasangan plafon dan daun jendela di Musholla Al-Ikhlas, sehingga masyarakat dapat beribadah dengan lebih khusyuk.
Makan bersama bukti kedekatan TNI dan Rakyat; Di lokasi TMMD ke-127 Kodim 1608/Bima, kemanunggalan TNI dan rakyat bukan sekadar slogan, melainkan nyata dalam setiap aktivitas kebersamaan. Usai bergelut dengan cangkul dan semen, prajurit dan warga duduk bersila di atas tikar sederhana, menikmati hidangan seadanya dengan tawa yang lepas dan obrolan hangat tanpa sekat. Tangan yang sama-sama berbalut debu pembangunan itu saling menyodorkan air minum, berbagi lauk, dan bertukar cerita tentang keluarga serta harapan akan desa yang lebih maju. Dalam suasana penuh kekeluargaan itulah terlihat jelas bahwa TMMD bukan hanya membangun fisik semata, tetapi juga mempererat ikatan batin antara TNI dan rakyat, menghadirkan rasa saling memiliki dan semangat gotong royong yang kian kokoh.
Sinergitas kuat Pemerintah Daerah dukung Program TMMD: Pemerintah Kabupaten Bima kembali menunjukkan komitmen dan keberpihakannya kepada masyarakat melalui dukungan nyata terhadap pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 oleh Kodim 1608/Bima. Komitmen tersebut diwujudkan dengan pengucuran anggaran sebesar Rp1 miliar guna mendukung kelancaran dan kesuksesan program terpadu lintas sektoral ini.
Dukungan anggaran tersebut menjadi bukti bahwa Pemerintah Kabupaten Bima tidak hanya hadir dalam tataran kebijakan, tetapi juga konkret dalam aksi. TMMD bukan sekadar program pembangunan fisik, melainkan wujud sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan desa, memperkuat ketahanan wilayah, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Lahir dari Rakyat, Mengabdi untuk Rakyat;
Kedekatan ini berakar dari sejarah panjang TNI yang lahir dari rahim perjuangan rakyat. Dalam pelaksanaan TMMD Kodim 1608/Bima Tahun 2026, Letkol Arh. Samuel Asdianto Limbongan menekankan bahwa prajurit tidak hanya datang untuk menyelesaikan target fisik. Makan bersama di rumah penduduk, bercengkerama di sela-sela pekerjaan, hingga ikut serta dalam kegiatan adat menjadi pemandangan sehari-hari. Interaksi ini menciptakan suasana kekeluargaan yang kental, mempertegas bahwa TNI bukanlah pihak yang berjarak. Setiap tetes keringat yang jatuh menjadi simbol persatuan antara prajurit dan masyarakat tanpa memandang status sosial.
Warga bersuara sebagai bentuk rasa syukur; Program TMMD ke-127 Kodim 1608/Bima disambut penuh rasa syukur oleh warga di berbagai desa yang merasakan langsung manfaatnya. Di Desa Sondo, M. Jafar (65) mengungkapkan kebahagiaannya atas pembangunan jalan tani yang kini memudahkan petani mengangkut hasil panen tanpa harus berjibaku dengan medan becek dan licin; baginya, TMMD telah menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan sehari-hari. Kepala Desa Tanggabaru, A. Rasyid, juga menyampaikan apresiasi atas terwujudnya akses jalan tani yang selama ini dinantikan masyarakat karena berdampak besar pada kelancaran distribusi hasil pertanian dan peningkatan ekonomi warga. Sementara itu, Ahmadin, SH, Kepala Desa Tolouwi, menuturkan rasa terima kasih atas pembangunan talud dan sumur bor yang sangat dibutuhkan, sebab selain menjaga lingkungan dari ancaman longsor, fasilitas air bersih kini memberi harapan baru bagi warganya. Di Desa Waro, Fatmah (53) mengaku terharu dengan pembangunan MCK Masjid Ainun Yaqin serta program RTLH yang membantu masyarakat kurang mampu; menurutnya, fasilitas tersebut membuat warga semakin nyaman beribadah dan merasakan perhatian nyata dari pemerintah bersama TNI. Sedangkan Ibrahim dari Desa Tolotangga menyampaikan rasa syukur atas pemasangan plafon dan jendela Mushollah Al Ikhlas yang kini membuat tempat ibadah lebih rapi, terang, dan nyaman, sehingga jamaah semakin khusyuk dalam beribadah.
Penutup;
TMMD Kodim 1608/Bima Tahun 2026 bukan sekadar program pembangunan desa, melainkan cermin nyata kedekatan TNI dan rakyat. Dari kerja fisik di parit-parit jalan hingga sentuhan kemanusiaan di rumah ibadah, TNI hadir sebagai sahabat sejati. Sebuah hubungan yang telah teruji oleh waktu, mengakar kuat, dan akan terus terjaga dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
TMMD ke-127 Kodim 1608/Bima adalah sebuah monumen hidup. Di akhir masa baktinya nanti, yang tertinggal bukan hanya jalan yang mulus atau jembatan yang kokoh, melainkan kembalinya semangat gotong royong yang sempat luntur diterjang modernisasi.
Seperti yang sering ditegaskan oleh Letkol Arh. Samuel Asdianto Limbongan, “TNI dan rakyat adalah satu kesatuan yang tidak boleh dan tidak akan pernah bisa dipisahkan.” Di tanah Bima, harapan itu kini telah disulam, dijahit dengan benang kebersamaan, dan dipastikan akan terus terjaga untuk generasi mendatang. (**)






