Oleh: Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.)
Pengamat Sosial Politik
Lensa Pos NTB | OPINI – Sebelum lebih jauh, saya teringat kata-kata seseorang. Dia bilang begini, “Selingkuhnya orang yang belum menikah masih sekadar ciuman. Tapi selingkuhnya orang yang sudah menikah, pasti urusannya seks atau hubungan badan.” Saya merenung dan sampai sekarang masih bertanya-tanya, apa kira-kira maksud orang ini. Untuk memulai tulisan ini, saya ingin juga mengutip perkataan Oscar Wilder, “Everything in the world is about sex, except sex. Sex is about power.” Kutipan ini satir sekaligus menohok. Wilder menyindir bagaimana relasi seksual di sekitar kekuasaan sebenarnya bukan soal hasrat semata, tetapi soal dominasi, pengaruh, dan permainan kuasa.
Perempuan telah menjadi subjek sekaligus objek dalam berbagai proses politik di berbagai tingkatan, dari zaman ke zaman, dari abad ke abad di berbagai belahan dunia. Perempuan bisa menjadi pemanis sampai terlibat penting dalam urusan politik tingkat tinggi. Dalam politik, perempuan berikut dengan tubuh, relasi, dan moralitasnya kerap dijadikan komoditas skandal.
Diplomasi bisa saja deadlock, tapi ketika dilibatkan perempuan, prosesnya bisa mulus dan fluid. Kekuasaan bisa saja terasa hambar, tapi ketika ada perempuan, semuanya bisa terasa menantang. Perempuan juga bisa menjadi objek pertukuran kepentingan dalam politik dan kekuasaan. Lobi-lobi politik boleh saja kaku, namun dalam ruang yang lebih informal seperti jamuan makan malam, resepsi diplomatik, atau jaringan sosial , suasana dapat berubah jauh lebih cair. Pesona personal, kemampuan menggoda, dan kecakapan sosial justru membuka pintu percakapan yang sebelumnya tertutup. Dalam ruang seperti ini, politik tidak lagi dingin dan prosedural, tetapi berubah menjadi permainan psikologi, keakraban, dan daya tarik manusiawi yang sering kali lebih efektif daripada pidato resmi.
Sejarah mencatat bagaimana perempuan pernah memainkan peran penting dalam diplomasi yang halus namun berpengaruh. Sosok seperti Mata Hari pada masa World War I menjadi contoh klasik bagaimana pesona perempuan digunakan dalam jaringan intelijen dan politik. Sebagai penari eksotis yang dekat dengan banyak perwira militer Eropa, ia membangun relasi personal yang membuka akses ke informasi sensitif. Ia tahu betul kelemahan laki-laki. Kisahnya memperlihatkan bagaimana daya tarik perempuan dapat menjadi pintu masuk bagi pengaruh politik, meskipun pada akhirnya ia juga menjadi korban dari permainan kekuasaan yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Di era yang lebih modern, pola serupa muncul dalam skandal yang melibatkan elite politik dan jaringan perempuan yang digunakan untuk memikat atau menjebak lawan politik. Kasus yang melibatkan politisi Inggris John Profumo dan model muda Christine Keeler, yang kemudian dikenal dengan Profumo affair memperlihatkan bagaimana relasi personal bisa berubah menjadi krisis politik nasional. Keeler berada di lingkar sosial yang juga terhubung dengan seorang atase Soviet pada masa Cold War. Dalam situasi seperti ini, perempuan bukan hanya menjadi figur yang memikat perhatian elite kekuasaan, tetapi juga diposisikan sebagai objek pertukaran kepentingan dalam permainan politik dan intelijen yang sangat kompleks.
Banyak skandal politik di berbagai negara menunjukkan pola yang hampir sama. Perempuan hadir sekaligus sebagai aktor dan objek dalam drama kekuasaan. Dalam kasus seperti skandal antara Bill Clinton dan Monica Lewinsky yang memicu Clinton–Lewinsky scandal, misalnya, relasi personal berubah menjadi krisis politik nasional. Namun menariknya, perhatian publik lebih tajam kepada perempuan yang terlibat dibandingkan kepada pejabat yang memiliki kekuasaan jauh lebih besar. Perempuan dalam kasus seperti ini tidak hanya menjadi bagian dari peristiwa, tetapi juga dijadikan simbol moralitas, seolah skandal itu terutama melekat pada dirinya.
Fenomena serupa juga muncul di banyak negara lain ketika hubungan pribadi elite politik berubah menjadi komoditas sensasi publik. Dalam France misalnya, kehidupan pribadi tokoh seperti François Hollande dan aktris Julie Gayet pernah menjadi bahan konsumsi politik dan media. Di sini terlihat bagaimana tubuh dan kehidupan perempuan dengan cepat berubah menjadi narasi skandal. Foto, rumor, dan gosipnya menjadi bahan bakar opini publik. Politik modern tidak hanya bertarung dengan kebijakan dan ide, tetapi juga dengan cerita-cerita intim yang menempatkan perempuan sebagai wajah dari sensasi itu.
Skandal politik sering memperlihatkan paradoks: perempuan kerap dianggap penggoda atau pemburu kekuasaan, tetapi pada saat yang sama mereka juga menjadi korban dari sensasi yang diciptakan oleh politik dan media. Ketika seorang pejabat terseret skandal, narasi publik sering berputar pada siapa perempuan di belakangnya, bagaimana penampilannya, dan apa motifnya. Di titik inilah perempuan tidak lagi sekadar individu yang terlibat dalam sebuah relasi, melainkan berubah menjadi objek simbolik, tempat publik menumpahkan moralitas, kemarahan, dan voyeurisme terhadap kekuasaan.
Eksploitasi perempuan oleh figur berkuasa terlihat jelas dalam sejumlah skandal besar dunia. Kasus yang mengguncang politik global terjadi pada 2011 ketika kepala International Monetary Fund saat itu, Dominique Strauss-Kahn, dituduh melakukan kekerasan seksual terhadap pekerja hotel, Nafissatou Diallo, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Dominique Strauss-Kahn sexual assault case. Kasus ini menunjukkan bagaimana posisi politik dan ekonomi yang sangat kuat dapat menciptakan situasi rentan bagi perempuan yang berada di lingkaran yang jauh lebih lemah secara sosial. Bagi banyak pengamat, skandal itu membuka tabir tentang bagaimana relasi kuasa dapat berubah menjadi ruang eksploitasi, di mana perempuan dipaksa berhadapan dengan figur yang memiliki kekuatan institusional besar.
Contoh lain muncul dalam jaringan pesta politik dan bisnis yang melibatkan mantan perdana menteri Silvio Berlusconi di Italy. Dalam perkara yang dikenal sebagai Rubygate scandal, Berlusconi dituduh memanfaatkan jaringan perempuan muda dalam pesta “bunga bunga”, termasuk seorang penari muda Karima El Mahroug. Dalam berbagai kasus ini, perempuan sering muncul di permukaan sebagai “tokoh skandal”, padahal dalam banyak situasi mereka berada di posisi paling rentan dalam relasi kuasa yang sangat tidak seimbang.
Perempuan sejak lama menjadi daya pikat tersendiri dalam orbit politik dan kekuasaan. Di banyak sistem politik, kedekatan dengan perempuan, baik sebagai pasangan, selir, “bunga-bunga”, figur glamor, maupun simbol daya tarik dipakai untuk membangun citra pemimpin yang kuat, sukses, dan berkarisma. Figur seperti Kennedy kerap digambarkan sebagai pemimpin yang memancarkan aura maskulinitas dan pesona publik, terlebih dengan sosok ikonik di sekelilingnya seperti Marilyn Monroe. Dalam lanskap politik modern, pesona personal semacam ini tidak jarang menjadi bagian dari konstruksi citra kekuasaan, bahwa pemimpin yang dikelilingi perempuan cantik dianggap lebih berpengaruh, lebih berkelas, bahkan lebih “berhasil”.
Pada akhirnya, politik bukan hanya arena ide, strategi, dan perebutan kebijakan. Politik juga panggung hasrat manusia. Kekuasaan boleh saja tampil rasional di permukaan, tetapi di balik layar selalu ada emosi, ego, dan godaan yang ikut bekerja. Di ruang inilah pesona perempuan kerap menjadi magnet yang sulit diabaikan. Banyak elite politik berbicara tentang moral, etika, tata krama di depan publik, tetapi sejarah berulang kali menunjukkan bahwa daya tarik personal perempuan sering ikut membentuk ritme kekuasaan di belakang layar.
Pesona perempuan dapat mencairkan suasana yang kaku, membuka percakapan yang sebelumnya buntu, bahkan mempertemukan kepentingan yang sulit dipertemukan. Dalam dunia politik yang keras dan penuh intrik, kehadiran perempuan dapat menghadirkan dimensi yang lebih cair, lebih emosional, sekaligus lebih menggoda. Karena itu, tidak sedikit kekuasaan yang beroperasi melalui jaringan relasi sosial yang diwarnai pesona, kedekatan, dan daya tarik personal. Pada titik ini, politik, selain sebagai permainan logika dan kekuatan, tetapi juga permainan pesona.
Perempuan bisa menjadi daya pikat yang memperhalus wajah kekuasaan, tetapi pada saat yang sama mereka juga sering dijadikan alat dalam permainan yang tidak mereka kendalikan sepenuhnya. Politik membutuhkan pesona perempuan untuk membuat kekuasaan terasa hidup dan menantang, tetapi ketika skandal pecah, perempuan pula yang diseret. Maka hubungan antara perempuan dan kekuasaan selalu ambivalen: penuh daya tarik, penuh manfaat bagi politik, tetapi juga sarat eksploitasi. (**)






