Oleh: Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.) – Pengamat Sosial Politik
Lensa Pos NTB, OPINI – Kalau sekelompok masyarakat atau pemuda melakukan hal-hal bobrok di daerahnya, sadar tidak sadar itu membuat nama atau citra daerah makin jelek. Orang-orang luar akan menilai, “Ah, wajar daerah tersebut sulit maju. Masyarakatnya bobrok.” Kamu tidak bisa membatasi penilaian orang lain, karena mereka melihat realitasnya seperti apa dari hari ke hari. Apa akibat jangka panjangnya? Orang luar akan meremehkan daerahmu dan masyarakatnya secara umum. Orang luar tidak me-reken. Kasihan masyarakat lain yang tidak bikin onar, tapi ikut kena imbas atas sikap bodohmu. Kamu juga tidak bisa melarang orang lain untuk tidak meremehkan daerahmu dan masyarakatnya. Mereka sering disuguhkan realitas, fakta, atau informasi yang lebih banyak menyajikan keadaan atau realitas buruk. Sekali lagi, kamu tidak bisa mengendalikan penilaian orang. Tapi kamu sendiri sebagai masyarakat yang harus pandai mengendalikan diri.
Jadi, sebelum bertindak secara kolektif, pikirkan dulu akibat jangka panjangnya. Apakah yang kalian lakukan itu mencoreng citra daerah atau tidak. Pikirkan apakah yang akan kalian lakukan itu tidak akan memunculkan penilaian buruk orang “Masyarakat di situ kualitasnya memang tidak tinggi.” Kalau kamu sekolah, seharusnya kamu dapat memahami bahwa, dalam konteks ini, kata “tidak tinggi” adalah bentuk halus dari kata “rendah”. Masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik daerahnya. Karena itu mereka dituntut untuk bersikap yang proporsional, benar, dan tepat untuk menjaga nama baik daerahnya.
Jadi, kalau ada sikap-sikap bobrok atau tidak mencerminkan kualitas SDM yang mumpuni yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat di daerah tersebut, justru yang dikorbankan adalah nama baik dan citra daerah itu sendiri. Daerah itu tidak punya salah. Tidak adil ia menanggung penilaian buruk orang lain. Tapi karena kelakuan bobrok pihak-pihak tertentu, justru citra baiknya dikorbankan. Karena itu, sangat penting untuk menjadi masyarakat yang memiliki kualitas SDM yang berkualitas. Caranya: banyak membaca dan terus belajar. Tidak ada cara lain. Penting juga bagi masyarakat untuk memperbaiki pola pikirnya.
Caranya? Jangan jago kandang. Jangan merasa diri sudah jago, lalu tidak mau membuka diri untuk belajar dari pihak-pihak luar. Kritis itu tidak sama dengan menghujat. Kritis itu juga tidak sama dengan menghancurkan fasilitas publik. Mengaktualisasikan pikiran dan sikap kritis tidak sama dengan mengganggu ketertiban umum. Contoh: kalau kamu mau mengkritik kebijakan pemerintah daerah, bukan berarti kamu merusak menggali tanah, lalu menumpuknya di tengah jalan semau kamu. Itu akan mengganggu ketertiban publik. Kalau itu kamu lakukan, berarti ada yang salah dengan pola pikirmu.
Menyelesaikan masalah tidak boleh dengan cara-cara yang menimbulkan masalah baru. Pemerintah daerah yang kamu anggap punya salah, tapi masyarakat lain yang kamu ganggu. Berarti kamu juga tidak bisa membedakan mana kritis, mana sikap bobrok. Lalu, kalau kamu mewujudkan pikiran kritismu dengan menghancurkan fasilitas publik, gunanya kamu sekolah itu apa? Kasihan guru-gurumu, mereka sudah capek bagaimana mengajarkan sikap baik, sedangkan kamu tidak bisa membedakan mana kritis, mana menghujat dan merugikan kepentingan umum.Kritis itu juga tidak sama dengan menyerang pribadi orangnya. Kalau kamu kritis, seharusnya kamu berupaya menyampaikan permasalahan dengan objektif dan proporsional, lalu berilah solusi.
Kalian juga jangan telan mentah-mentah perkataan Rocky Gerung yang mengatakan bahwa masyarakat tidak punya kewajiban memberi solusi ketika mengkritik. Saya kurang setuju dengan itu. Kalau kamu orang yang sekolah, lalu mengkritik, berilah solusi kepada pemerintah daerah. Bukan terus menghujatnya. Di sisi lain, memuji tidak sama dengan menjilat. Dalam konteks kepentingan umum dan relasi dengan pemerintah daerah, memuji itu bukan memuji sosoknya, tapi pujilah sikap baiknya dan kinerjanya dengan objektif. Memuji itu tidak sama dengan menjilat, sebab kalau kamu menjilat, kamu akan menutup mata dengan kekurangan dan keburukan pemerintah daerah. Sikap menjilat itu mencerminkan orang yang tidak berkualitas alias kualitas rendah. Karena tidak ada hal yang bisa dia andalkan kecuali sikap menjilatnya. Jagalah nama baik daerah. Kalau kamu tahu daerahmu sulit berkembang, maka lakukan hal-hal yang bisa berkontribusi bagi perkembangannya.
Tidak usah dulu bicara kemajuan, karena itu adalah sesuatu yang tidak terukur. Tapi kalau kamu tidak bisa melakukan hal-hal yang berkontribusi bagi perkembangan daerahmu, lebih baik kamu menjaga sikap dan melakukan hal-hal buruk yang akan menghancurkan citra daerah. Terbukalah terhadap masyarakat daerah lain yang sudah terbukti berkembang. Belajarlah dari mereka, bagaimana interaksinya secara vertikal maupun horisontal. Belajarlah dari mereka bagaimana menyelesaikan masalah-masalah sosial. Apakah mereka melakukan hal-hal bobrok ketika menyelesaikan masalah-masalah sosial? Tentu tidak. Itu yang patut kamu contoh. Pesan juga untuk pemerintah daerah. Perhatikan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang terpenuhi atau kenyang perutnya tidak akan melakukan hal-hal nekat dan merugikan nama baik daerah. Karena itu, seriuslah memperhatikan perut masyarakat. Jangan kenyang sendiri. Kalau tidak mau dihujat oleh rakyat, penuhi janji-janji politik itu. Jadilah pemerintah daerah yang amanah dan tidak banyak bohong. (**)






