Dana Desa di Bima – Dompu Dipakai Untuk Apa?

Oleh : Andi Fardian, M.A – Pengamat Sosial Politik

Lensa Pos NTB, OPINI – Penggunaan Dana Desa di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang saya lihat dipakai untuk hal-hal yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dana Desa tidak hanya dialokasikan untuk pembangunan fisik, tetapi juga nonfisik. Bukan hanya untuk jangka pendek, tetapi juga jangka panjang demi menunjang keberlanjutan. Ada banyak hal yang dibiayai dari Dana Desa.

Contoh penggunaan Dana Desa yang paling nyata adalah untuk membangun lapangan desa dengan standar nasional dan internasional. Rumputnya dipelihara dan dijaga. Di pinggir lapangan dibuat trek lari dan fasilitas olahraga yang memadai. Selain itu, juga dilengkapi dengan fasilitas bermain anak-anak. Dengan demikian, setiap sore masyarakat bisa berolahraga, nyore produktif, bermain, dan bersosialisasi. Para pemuda bisa menyalurkan hobi dan minatnya. Anak-anak kecil bisa bermain dan memanfaatkan waktu sore. Para lansia bisa berolahraga. Desa jadi punya tempat keramaian. Lapangan dan fasilitas desa dijaga bersama.

Apa aspek keberlanjutannya? Karena masyarakat berkunjung, otomatis pelaku UMKM desa bisa berjualan di situ. Ekonomi desa jadi berjalan dari subuh sampai malam. Uang berputar di antara warga desa. Setiap tahun, lapangan juga dipakai untuk event-event rutin desa.

Selain lapangan, Dana Desa juga dipakai untuk membangun dan merawat hutan atau taman desa. Pada sore hari, para orang tua mengantar anak-anaknya bermain. Tempatnya sejuk dan rindang. Ekonomi desa pun hidup. Karena di mana ada keramaian, di situ ada peluang berjualan.
Dana Desa juga dilaporkan penggunaannya secara transparan, baik online maupun offline. Secara online melalui website desa. Omong-omong, desa Anda sudah punya website? Sedangkan pelaporan secara offline dilakukan melalui baliho besar di berbagai pojok desa. Itu merupakan wujud kesadaran kepala desa untuk melaporkan keuangan desa.

Dana Desa juga dipakai untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat. Ada pelatihan pemasaran digital, pelatihan tanggap bencana, pelatihan menjahit, pelatihan akuntansi bagi pemuda dan pemudi. Dan, itu benar-benar dilakukan. Buka sekadar formalitas.

Jadi, Dana Desa tidak hanya dipakai untuk perbaikan jalan, talang, irigasi, dan pembangunan fisik. Namun, juga harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan agar masyarakat bisa sejahtera lahir dan batin.

Nah, desa-desa di Bima-Dompu bagaimana? Bagaimana penggunaan Dana Desa-nya? Apakah Dana Desa setiap tahun dipergunakan dengan tepat sasaran? Apakah penggunaannya juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan?
Bagaimana peran karang taruna, BPD, LPM, dan BUMDes? Apakah kritis atau hanya ikut apa kata kepala desa? Semoga kritisnya pemuda di Bima-Dompu konsisten membela kepentingan rakyat. Jangan sampai kritis dan kerasnya berhenti ketika kepala desa memberi uang rokok yang tidak seberapa.

Saya berharap penggunaan Dana Desa di Bima-Dompu benar-benar dipakai dengan tepat sasaran agar tidak sia-sia dana ratusan juta setiap tahun. Apakah masyarakat merasakan dampaknya?

Ayolah, para kepala desa di Bima-Dompu. Berpikirlah yang kreatif dan inovatif. Kuncinya ada di Anda-anda sebagai pemimpin desa. Ini uang rakyat yang harus dikelola dengan benar dan tepat sasaran. Sederhana saja mengukur keberhasilan kepemimpinan Anda: apakah desa Anda maju? Apakah selama Anda memimpin, desa Anda berubah ke arah yang lebih baik? Jujurlah menilai.

Pos terkait

banner 468x60