Pesan-pesan untuk Mahasiswa Bima-Dompu di Yogya

Oleh: Andi Fardian, M.A., Ph.D (Cand.) – Diaspora Bima-Dompu di Yogyakarta

Lensa Pos NTB, OPINI – Untuk mahasiswa Bima-Dompu, termasuk juga untuk calon-calon mahasiswa yang akan kuliah ke Yogya, agar membuang jauh dan meninggalkan kebiasaan dan budaya bersikap buruk di daerah asal kita. Kebiasaan-kebiasaan buruk itu, antara lain: Satu, sikap gengsi tapi tidak mau menggunakan helm selain yang merk Ink. Di Yogya, orang tidak peduli merek helm, tapi mengutamakan tertib berkendara. Dua, kebiasaan mencopot spion motor agar terlihat keren. Itu justru sikap yang kampungan. Di Yogya, mencopot salah satu spion adalah hal yang tabu. Remaja sampai orang tua selalu lengkap spion motornya. Tiga, kebiasaan suka teriak-teriak di malam dan siang hari. Di sini, sikap itu akan dianggap tidak tahu etika, tidak tahu diri, dan tidak punya sopan santun karena mengganggu orang lain. Sikap ini juga yang menjadi salah satu hal yang dikeluhkan oleh warga setempat. Sebagian mahasiswa Bima-Dompu suka teriak-teriak dan tidak peduli ketertiban. Termasuk di asrama daerah.

Empat, kebiasaan melawan jalur dan lampu merah. Tolong tinggalkan itu. Karena orang-orang di sini tertib-tertib. Nanti kamu akan ditertawakan orang kalau melanggar dan malawan jalur. Lima, sikap-sikap menjengkelkan seperti tele tarangahe, tele mau, dan tele mapu keto sahe agar ditinggalkan. Kalau ditegur dan dinasehati oleh RT dan warga setempat, ya, jangan diulangi. Tapi realitasnya ini juga yang sering dikeluhkan oleh warga sekitar. Saat diberi tahu, manggut-manggut, besoknya melakukan lagi. Itu yang disebut tele mapu keto sahe. Enam, kebiasaan menanyakan ada ‘orang dalam’ atau ada kenalan di kampus-kampus tertentu atau tempat melamar pekerjaan, harap ditinggalkan. Itu sangat memalukan. Jangan sedikit-sedikit tanya ada orang dalam atau kenalan. Andalkan kualitas dirimu sendiri. Sikap buruk seperti itu akan membuat orang makin berpikir bahwa mahasiswa Bima-Dompu tidak punya kualitas, dan bisanya hanya mengandalkan ‘orang dalam’.

Tujuh, ini khusus untuk para orang tua kita di Bima-Dompu. Berhentilah menggunakan cara-cara membawa madu khas, tembe nggoli, ayam jago, atau tenunan khas kita dengan tujuan menyogok dan berharap anak-anak kita akan diterima di tempat pekerjaan atau kampus. Sikap itu akan membuat orang tidak respek pada kita. Delapan, tolong jangan bawa etos kerja asal-asalan kita ke Yogya. Kerjalah yang benar. Jangan asal jadi. Kalau menerima pekerjaan parttime, selesaikan pekerjaan dengan kualitas yang maksimal. Sembilan, buang jauh-jauh sikap sok merasa diri orang kota. Hanya karena tinggal di sekitar kantor bupati dan walikota, lalu menganggap teman-teman yang tinggal di desa dan pelosok sebagai orang kolot. Di Bima-Dompu tidak ada kota. Kota Bima itu hanya nomenklatur saja. Kita ini sama-sama tinggal di dekat gunung, bukit, dan laut. Sepuluh, tolong jangan memaksakan diri menggunakan bahasa Jawa. Lidah kita orang Bima-Dompu itu kaku. Jangan juga memaksakan diri me-medok-medok-kan diri. Gunakan saja bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan sesama Bima-Dompu, gunakan bahasa daerah Bima-Dompu. Jangan gengsi. Kita harus bangga menjadi Bima-Dompu. Sebelas, kebiasaan memodifikasi knalpot sepeda motor tretetet dan mengebut di jalan di Bima-Dompu, tolong tinggalkan. Sikap ini menganggu ketertiban karena membuat orang ada dalam kebisingan. Orang-orang yang tidak suka akan mendoakan yang terburuk untuk kamu dan kalian. Jangan salahkan orang lain ketika mereka mendoakan cepat check out.

Terakhir, tolong jangan lupa daratan dan kaget budaya, lalu mengatakan, “Maaf saya tidak terlalu bisa berbahasa Bima-Dompu.” Itu keterlaluan. Kamu hidup di Bima-Dompu dua puluh tahun, tiba-tiba baru setahun di Yogya sudah bilang begitu. Kami saja yang sudah 13 tahun di Yogya, sentu Ranggo kami masih kental. Mari bangga menggunakan bahasa daerah. Datanglah ke Yogya untuk mencari ilmu, pengalaman hidup, dan dan mengedukasi diri. (**)

Pos terkait

banner 468x60