Oleh: Andi Fardian, M.A – Pengamat Sosial Politik
Lensa Pos NTB – OPINI – Sungguh akan sulit bagi Anies menjadi presiden. Ada banyak faktor. Satu, dia bukan dari suku mayoritas. Banyak orang tidak suka terhadap faktor ini. Tapi suka tidak suka, antropologi politik tidak bisa dipisahkan dari diskusi dan kontestasi politik. Mana ada mayoritas mau dipimpin oleh minoritas.Karena faktor pertama ini pula, saya jadi memahami sikap JK yang mendukung Anies. JK, beberapa tahun lalu pernah mengatakan, “Butuh 50 atau 100 tahun lagi presiden Indonesia dari luar Jawa.” Pernyataan JK itu implisit betapa tidak mudahnya orang non Jawa untuk jadi presiden Indonesia.
Ya, saya agak setuju dengan pernyataan JK. Anda juga tidak perlu naif. Tidak semua persoalan di Indonesia dapat diselesaikan dengan cara Jawa yang halus itu. Atau dengan gaya merangkul dengan tangan, menabok dengan tangan kiri. Boleh jadi gaya Batak yang lugas9 efektif menyelesaikan masalah-masalah di Indonesia. Atau, budaya dan cara Bugis yang kerisnya di depan cocok untuk membabat para koruptor. Tapi itu soal lain. Mimpi JK harus kita hormati.Dua, dia menjadi antitesis dari patahana. Betul, ada banyak orang mendukung Anies sebagai oposisi.
Tapi jangan dikira silent voter menyukai Anies. Belum tentu. Tiga, Anies tidak punya partai. Faktor yang ketiga ini sangat susah dan menyulitkan Anies. Mau terbang, tapi tak punya sayap adalah langkah yang tidak realistis. Tapi semoga saja ormas atau partai yang baru dia bentuk akan berkembang.Langkah yang paling realistis bagi Anies untuk mencapai pucuk kepemimpinan adalah dengan merelakan dirinya menjadi orang nomor dua: Ya, RI 2. RI 2 bagi siapa? RI 2 bagi Gibran.
Mengapa Gibran? Menjadi pasangan Prabowo hampir tidak mungkin bagi Anies. Ada dendam pribadi. Betul dalam politik tidak ada istilah kawan dan lawan. Tapi, dendam pribadi berperan dalam menentukan orang bersatu atau tidak. Apa dendam pribadi Prabowo ke Anies? Anda cari tahu di Google. Orang-orang Prabowo akan mengingatkan Prabowo, “Bapak tidak ingat dikasih nilai 11?” Suka tidak suka Anda pada Jokowi, pengaruhnya masih sangat kuat. Orang-orang masih banyak yang ke Solo.
Saat ini pun mereka masih melihat dan menunggu langkah Prabowo selanjutnya seperti apa. Dia mau melepas Gibran atau tidak. Kalau Gibran dilepas, kubu Solo tentu sudah menyusun skenario Plan B. Plan B itu, salah satunya adalah Gibran maju jadi RI 1. Jokowi masih punya pengaruh besar untuk memenangkana anaknya. Bagi saya, kontribusi Jokowi terhadap kemenangan Prabowo-Gibran di Pilpres 2024 kemarin juga sangat besar.
Untuk itu, jika Anies mau naik, ada baiknya untuk mendekat ke Jokowi dan Gibran. Jika ini terwujud, Gibran-Anies akan menjadi lawan yang tangguh bagi Prabowo di 2029. Bukan tidak mungkin pasangan ini akan menang. Sudah saatnya juga pendukung Anies di 2024 mulai berpikir realistis. Menyatunya pendukung dan loyalis Jokowi-Gibran dengan pendukung dan loyalis Anies justru akan menjadi contoh yang ajeg dalam realisme politik Indonesia.
Kalau Anies-Gibran, bagaimana? Menurut saya ini akan sulit dan tidak proporsional. Peta dukungan justru akan tidak berguna dan retak. Ini pengamatan saya per hari ini. Setuju atau tidak setuju Anda, itu hal biasa. Sementara begitu dulu. Saya mau gym. (*)






