Oleh: Bambang Supriadi (Pemerhati Lingkungan)
Lensa Pos NTB, OPINI – Kita sering mendengar ungkapan “mengubah sampah menjadi berkah.” Kalimat ini banyak digunakan dalam berbagai gerakan lingkungan. Sampah yang semula dianggap tidak berguna dipilah, dikumpulkan, didaur ulang, dikomposkan, atau diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai. Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita ajukan, sebenarnya di mana letak keberkahan sampah itu?Apakah keberkahan hanya terletak pada nilai ekonomi yang dihasilkan? Apakah sampah yang berhasil dibuat menjadi kerajinan otomatis telah menjadi berkah? Ataukah ada ukuran lain yang lebih mendasar?Menurut saya, keberkahan sampah harus dilihat dari seberapa besar manfaat yang dihasilkan sekaligus seberapa besar beban lingkungan yang berhasil dikurangi.Dalam konteks pengelolaan sampah, salah satu ukuran yang paling nyata adalah seberapa banyak sampah yang berhasil diintervensi sejak dari sumber sehingga tidak perlu diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Keberkahan Dimulai dari Sumber Sampah tidak tiba-tiba menjadi masalah di TPA. Sampah berawal dari rumah tangga, sekolah, kantor, pasar, tempat ibadah, dan berbagai sumber aktivitas manusia. Karena itu, penyelesaian persoalan sampah seharusnya juga dimulai dari tempat sampah itu dihasilkan.Jika sampah yang dihasilkan di suatu sekolah seluruhnya dikumpulkan dan diangkut ke TPA, maka seluruh beban tersebut akhirnya menjadi tanggungan sistem persampahan. Semakin banyak sampah yang dihasilkan, semakin besar pula kebutuhan pengangkutan, lahan TPA, biaya operasional, dan potensi dampak lingkungannya. Sebaliknya, jika sebagian besar sampah dapat diselesaikan di sumber, maka sampah yang harus diangkut ke TPA menjadi semakin sedikit. Di sinilah kita dapat menemukan salah satu makna penting dari “sampah menjadi berkah. ”Keberkahan itu bukan hanya karena sampah berubah menjadi benda lain, tetapi karena sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan berhasil kita cegah untuk menjadi beban tersebut.
Mengubah Bentuk Tetap Penting Namun, bukan berarti perubahan bentuk sampah tidak penting. Justru untuk jenis sampah tertentu, perubahan bentuk merupakan bagian penting dari proses pengelolaan.Sampah organik adalah contohnya. Dalam banyak sumber sampah, terutama rumah tangga dan sekolah, sampah organik memiliki porsi yang besar. Jika sampah organik langsung dibuang ke TPA, maka kita kehilangan kesempatan untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Melalui pengomposan, sampah organik diubah menjadi kompos. Dalam proses tersebut terjadi dua hal sekaligus: sampah berhasil diintervensi di sumber dan menghasilkan produk yang bermanfaat.Karena itu, mengubah bentuk sampah menjadi kompos bukan sekadar kegiatan membuat produk. Nilai utamanya justru terletak pada fakta bahwa sejumlah sampah organik tidak jadi diangkut ke TPA.Kompos yang dihasilkan kemudian dapat dimanfaatkan untuk tanaman, taman sekolah, pertanian, atau kegiatan penghijauan. Dengan demikian, satu proses pengelolaan menghasilkan manfaat berlapis, sehingga mengurangi beban TPA sekaligus menghasilkan sesuatu yang berguna.Bagaimana dengan Kerajinan?Pertanyaan yang sama perlu kita ajukan terhadap kerajinan dari sampah. Membuat kerajinan dari botol plastik, kardus, bungkus kemasan, atau material bekas tentu memiliki nilai. Ada nilai kreativitas, pendidikan, keterampilan, dan kampanye lingkungan. Tetapi kita perlu jujur mengevaluasi hasil akhirnya.Jika sebuah produk kerajinan dibuat dari sampah tetapi tidak digunakan, tidak dibutuhkan, tidak laku dijual, kemudian hanya menjadi pajangan dan akhirnya dibuang kembali, maka manfaat pengelolaan sampahnya menjadi terbatas.Bukan berarti kegiatan tersebut sama sekali tidak bernilai. Nilai edukasi dan kreativitas tetap ada. Tetapi kita tidak boleh menjadikan “berhasil membuat kerajinan” sebagai satu-satunya indikator keberhasilan pengelolaan sampah. Sebab tujuan utama pengelolaan sampah bukan membuat sebanyak mungkin barang baru dari sampah.Tujuan yang lebih mendasar adalah mengurangi timbulan sampah, mencegah sampah menjadi beban lingkungan, dan memastikan material yang masih memiliki manfaat dapat digunakan kembali secara tepat.
Karena itu, tidak semua sampah harus dijadikan kerajinan. Sampah organik dapat dikomposkan, sampah yang memiliki nilai daur ulang dapat disalurkan ke bank sampah atau industri daur ulang. Barang yang masih dapat digunakan dapat digunakan kembali. Sedangkan residu yang memang tidak dapat dimanfaatkan perlu ditangani dan diproses secara benar.Ukuran Keberkahan: Berapa Banyak yang Tidak Masuk TPA?Dari sini dapat dirumuskan ukuran yang lebih konkret. Berdasarkan hasil kajian pada enam sekolah peserta Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS), total timbulan sampah yang dihasilkan mencapai rata-rata 192 kilogram per hari. Apabila seluruh sampah tersebut diangkut ke TPA tanpa melalui pengelolaan serius di sumber, maka sebanyak 192 kilogram itu akan menjadi beban sistem persampahan. Beban tersebut mencakup kebutuhan pengangkutan, kapasitas TPA, biaya pengelolaan, serta potensi pencemaran lingkungan yang ditimbulkannya.
Namun sekolah mampu memilah dan mengelola 141 kilogram di sumber, di mana sampah 128 kilogram sampah organik dikomposkan dan 13 kilogram sampah yang dapat didaur ulang disalurkan ke bank sampah, sehingga hanya 51 kilogram sampah yang harus diangkut ke TPA.Artinya, 74 persen sampah telah berhasil diintervensi di sumber. Angka 70 persen tersebut dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menakar keberhasilan pengelolaan sampah.Secara sederhana dapat dirumuskan: Persentase Intervensi Sampah di Sumber sama dengan Sampah yang dikelola di Sumber dibagi Total Timbulan Sampah dikali Seratus Persen. Semakin tinggi persentasenya, semakin sedikit sampah yang harus diangkut ke TPA. Semakin sedikit sampah yang masuk ke TPA, semakin kecil pula beban yang harus ditanggung oleh sistem persampahan dan lingkungan. Inilah yang menurut saya layak disebut sebagai salah satu ukuran keberkahan sampah.
Dari Beban Menjadi Manfaat – Keberkahan tentu tidak berarti bahwa semua sampah harus memiliki harga jual. Ada sampah yang nilai ekonominya rendah, tetapi nilai lingkungannya tinggi.Kompos mungkin tidak menghasilkan keuntungan besar dalam rupiah. Tetapi ketika ratusan kilogram sampah organik tidak jadi masuk TPA dan berubah menjadi kompos yang digunakan untuk menyuburkan tanah, maka manfaatnya tetap nyata.Demikian pula kegiatan memilah sampah di sekolah. Anak-anak mungkin tidak memperoleh uang dari setiap sampah yang mereka pilah. Namun mereka belajar bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Mereka belajar bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang dibuang, tetapi sesuatu yang harus dikelola.Perubahan perilaku tersebut memiliki nilai yang jauh lebih panjang. Karena itu, keberkahan sampah memiliki banyak dimensi: lingkungan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan kemanfaatan.Namun semuanya dapat ditarik pada satu pertanyaan utama, “Seberapa besar sampah yang berhasil kita selesaikan di sumber sehingga tidak menjadi beban bagi lingkungan?”Bukan Sekadar Memindahkan SampahAda satu hal yang sering luput dalam pengelolaan sampah. Kita kadang merasa sudah mengelola sampah karena sampah telah dikumpulkan, dipindahkan, atau dibuat menjadi produk tertentu. Padahal, jika ujung akhirnya tetap sama, yakni dibuang maka kita sebenarnya hanya memindahkan masalah.
Sampah dari halaman sekolah atau rumah tangga dipindahkan ke TPS. Dari TPS dipindahkan ke truk. Dari truk dipindahkan ke TPA. Secara visual, lingkungan sekolah dan rumah tangga memang menjadi bersih. Tetapi persoalan sampah belum benar-benar selesai. Bebannya hanya berpindah tempat.Karena itu, paradigma pengelolaan sampah perlu bergeser: bukan sekadar “bagaimana sampah segera dibuang?”, tetapi “bagaimana sampah dapat diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya?” Semakin dekat sampah diselesaikan dengan sumbernya, semakin sedikit yang perlu diangkut dan semakin kecil beban yang harus ditanggung oleh TPA.Keberkahan yang TerukurUngkapan “sampah menjadi berkah” akan menjadi lebih bermakna jika dapat diterjemahkan ke dalam ukuran yang nyata. Tidak hanya berapa banyak produk yang dibuat. Tidak hanya berapa rupiah yang dihasilkan. Tetapi juga berapa kilogram sampah yang berhasil dicegah masuk TPA.Enam sekolah yang mampu mengelola 128 kilogram sampah organik per hari menjadi kompos telah melakukan sesuatu yang sangat berarti. Bukan semata-mata karena berhasil menghasilkan kompos, tetapi karena 128 kilogram sampah tersebut tidak perlu menjadi beban pengangkutan dan pemrosesan akhir. Demikian juga dengan sebuah rumah tangga yang konsisten memilah sampah juga sedang melakukan hal yang sama.Sebuah masjid yang mengembangkan gerakan sedekah sampah pun demikian.
Sampah yang dikumpulkan bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi dapat menjadi sarana kepedulian sosial sekaligus mengurangi sampah yang berakhir di TPA.Pada akhirnya, keberkahan sampah dapat kita lihat sebagai perbandingan antara sampah yang kita hasilkan dengan sampah yang berhasil kita selesaikan di sumber. Maka, “mengubah sampah menjadi berkah” bukan sekadar slogan tentang bagaimana sampah diubah menjadi produk. Itu adalah ajakan untuk memastikan bahwa sebanyak mungkin sampah dapat diselesaikan di sumber, dimanfaatkan kembali, dan sesedikit mungkin yang harus kita wariskan kepada TPA l. (*)








