KOTA BIMA, LENSA POS NTB — Menciptakan lingkungan madrasah yang aman, humanis, dan berkarakter bukan sekadar tanggung jawab guru, tetapi menjadi komitmen bersama seluruh warga madrasah. Semangat inilah yang diusung dalam kegiatan bertema “Stop Bullying, Bangun Empati: Menciptakan Budaya Madrasah yang Aman, Humanis, dan Berkarakter” yang digelar di MAS Muhammadiyah Bima, Selasa (27/10/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Kapoksi VIII DPR RI Fraksi PKB, Hj. Mahdalena, SS., MM., dalam mendorong penguatan karakter peserta didik sekaligus membangun kesadaran tentang pentingnya mencegah perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan, khususnya madrasah.

Dalam kegiatan tersebut, Hj. Mahdalena menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Ridwan, SH, MH Dosen Universitas Muhammadiyah Bima, sebagai narasumber. Turut hadir perwakilan UIN Mataram, Dr. Erwin Fadli, M.Hum., serta pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Bima bersama unsur madrasah dan peserta kegiatan.
Dalam sambutannya, perwakilan UIN Mataram, Dr. Erwin Fadli, M.Hum., menekankan pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama. Budaya madrasah yang aman perlu dibangun melalui keteladanan, komunikasi yang baik, serta komitmen bersama untuk mencegah segala bentuk perundungan.
Sementara itu, Hj. Mahdalena menegaskan bahwa upaya menghentikan bullying harus dimulai dari kesadaran bahwa setiap peserta didik memiliki hak untuk belajar, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang aman serta bebas dari intimidasi. Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Ia juga mendorong seluruh elemen madrasah untuk menumbuhkan empati, membiasakan sikap saling menghargai, serta berani mengambil tindakan yang tepat ketika menemukan indikasi perundungan. Dengan demikian, madrasah dapat menjadi ruang pendidikan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh komitmen bersama untuk mewujudkan budaya madrasah yang aman, humanis, dan berkarakter. Sebab, menghentikan bullying bukan hanya tentang mencegah tindakan kekerasan, melainkan juga membangun lingkungan yang membuat setiap anak merasa dihargai, diterima, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan. (Editor: Abdul Syukur, ST)








