Bobrok-Majunya Daerah Tergantung Pola Pikir Rakyatnya

Oleh : Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.)
Pengamat Sosial Politik

Lensa Pos NTB, OPINI – Banyak orang mengatakan, “Daerah kami maju.” Lalu, saya tanya, tolok ukurnya apa?” Kebanyakan mereka tidak bisa menjawab. Ada beberapa orang yang menjawab, “Bukankah pemerintah daerah kami mengatakan ada peningkatan sekian nol koma persen.” Ya, pekerjaan pemerintah daerah ‘kan memang begitu. Ada sedikit peningkatan dalam angka, meski tidak signifikan, akan dianggap sebagai sebuah prestasi yang luar biasa.

Lagipula, mana ada pemerintah daerah yang dengan terbuka melaporkan ada penurunan. Laporan kinerja pemerintah daerah setiap tahun itu template: mereka selalu melaporkan ada peningkatan. Mana ada pemerintah daerah yang dengan gentle melaporkan bahwa “Kinerja kami tahun ini menurun dari tahun sebelumnya.” Itu sangat mustahil.

Selain itu, pemerintah daerah selalu menggunakan pendekatan kuantitatif dalam menentukan perkembangan. Aspek kualitatif sering kali mereka abaikan—atau memang sengaja diabaikan. Contoh konkret: Ada anggaran 100 juta. Mereka adakan pelatihan pembukuan keuangan pada pengusaha pemula, katakanlah UMKM kalau di Indonesia. Mereka akan menganggap program itu berhasil manakala anggaran 100 juta itu berhasil dipakai untuk mengadakan pelatihan.

Tapi, mereka tidak akan peduli, berapa peserta pelatihan yang bisa memahami dan membuat pembukuan keuangan usaha. Silakan Anda bisa menyebut contoh A,B,C, etc. Mereka tidak akan peduli bagaimana keberlanjutan dan evaluasi dari program itu. Yang penting anggaran terserap, urusan selesai. Lalu, itu yang dilaporkan dalam laporan kinerja tahunan.

Kalau menggunakan perspektif subjektif, semua orang juga mengatakan daerah mereka berkembang. Atau, kalau mereka melihatnya dari “kandang” mereka, itu juga sangat subjektif. Kalau Anda mau menilai apakah daerah Anda berkembang, panggil orang dari luar, beri mereka kesempatan untuk menilai dengan pelbagai instrumen dan data. Kebanyakan orang hanya punya mental jago kandang dalam arti menganggap daerahnya berkembang. Ya, wajar, ayam dalam kandang akan menganggap kandangnya bagus. Coba kalau dia di luar.
Atau, jangan-jangan yang mengatakan daerahnya berkembang itu adalah para tim sukses, para penjilat, para pengekor yang berada di sekitar kepala daerah. Mereka ‘kan harus mengeluarkan pernyataan yang menyenangkan hati gubernur atau bupati. Kalau tidak begitu, mereka tidak akan dapat makan.

Terkait penjilat ini, saya menyoroti khusus. Para penjilat di sekitar kepala daerah adalah salah satu penyakit atau hama yang membuat pemimpin daerah tidak bisa melihat kondisi daerah secara riil. Para penjilat akan terus mengatakan “kepemimpinan Bapak membawa kemajuan”. Padahal, nyatanya, tidak begitu. Para penjilat ini jugalah yang sering kali menjadi penghalang antara rakyat dan gubernur atau bupati. Mereka selalu menghalangi rakyat yang menyampaikan aspirasi jujur atau kejengahan dan ketidakpuasan atas pola kepemimpinan yang tidak membawa perubahan. Para kepala daerah seharusnya sadar bahwa para penjilat di sekitarnya adalah barrier yang nyata dalam menjaga keberlanjutan aspirasi rakyat.

Pertanyaan saya adalah: bagaimana mungkin Anda mengatakan daerah Anda berkembang sedangkan angka pengangguran terbuka di daerah Anda terus bertahan dari tahun ke tahun? Apakah daerah Anda bisa dikatakan berkembang, sedangkan masyarakat di daerah Anda masih menempuh cara-cara memblokir jalan, menebang pohon di tengah jalan, merusak fasilitas publik ketika ada masalah? Seharusnya Anda malu.
Tapi kali ini, bukan itu yang mau saya bahas. Saya akan bahas itu di lain waktu. Kali ini saya mau bahas tentang kualitas SDM suatu daerah, berikut dengan pola pikirnya.

Kualitas SDM masyarakat dari suatu daerah sangat memengaruhi cara mereka merespons setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Daerah dengan kualitas SDM yang mumpuni tidak akan mudah terdistraksi oleh hal-hal remeh, apalagi persoalan yang tidak penting. Mereka tidak peduli pada gosip, ghibah, dan urusan kampungan. Mereka sibuk bekerja, berproduktif, dan membangun. Anda bisa lihat dan belajar dari daerah dan kota-kota yang maju di belahan dunia ini. Sebaliknya, daerah dengan kualitas SDM yang kurang mumpuni akan mudah terdistraksi oleh hal-hal remeh. Atau, saya sebut saja kualitas SDM rendah. Terlalu sopan, lalu menyaring kata itu juga tidak baik. Mereka membicarakan hal-hal yang tidak berkualitas dari day by day, hingga lupa membangun, bekerja, dan melakukan hal-hal produktif. Mereka berkumpul dan menghabiskan waktu bukan untuk membangun daerah, tapi menyusun strategi untuk menjatuhkan satu sama lain. Mereka benar-benar mengadopsi cara kerja setan: saling menghasut dan merusak. Masyarakat menjadi berantakan dan hancur. Alih-alih berkembang. Pemerintahnya juga sibuk sendiri dengan politik dan baku hantamnya dalam rangkaian mempertahankan kekuasaan. Lalu, dengan rasa percaya dirinya yang tidak tahu diri, baik masyarakat maupun pemerintahnya mengatakan “Daerah kami maju” atau “Kota kami telah berkembang.” Mereka berbohong. Rakyat dan pemerintah saling membohongi diri sendiri dan satu sama lain.

Inilah yang disebut dengan pola pikir. Pola pikir masyarakat di suatu daerah menentukan arah pembangunan dan kemajuan daerah tersebut. Jika pola pikir kolektif masyarakat sulit diperbaiki, maka daerah itu akan berjalan di tempat.
Sepintar apa pun seseorang, jika ia tinggal di tengah masyarakat dengan pola pikir yang tidak maju, lama-kelamaan ia akan menjadi sama dengan masyarakat di sekitarnya. Ia dapat berubah menjadi pribadi dengan pikiran sempit dan pesimis. Apa solusinya? Tidak ada solusi yang mudah. Pola pikir sering kali mendarah daging. Hanya ada satu cara, yaitu berhijrahlah untuk mencari tempat lain yang masyarakatnya memiliki pola pikir yang lebih maju.

O iya, sebenarnya ada solusi, tapi saya yakin tidak akan mudah. Setiap individu harus mau merubah dirinya. Kalau tahu masyarakat memiliki pola pikir kolektif yang tidak maju, kualitasnya rendah, maka jauhi. Anda harus bertahan menjadi anomali. Sebab, masyarakat yang sudah terlanjur memiliki pola pikir yang mundur akan menganggapmu gila. Daerah Anda, bagaimana? Sudah berkembang? Cobalah main ke daerah lain, maka Anda akan bisa mempertajam pola pikir yang objektif dalam menilai perkembangan daerah Anda.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip filsuf yunani Heraclitus pernah yang mengatakan, “Ethos anthropō daimōn” yang artinya karakter manusia adalah takdirnya. Secara kontekstual bermakna nasib suatu masyarakat ditentukan oleh karakter dan pola pikirnya sendiri. Jika pikiran kolektif masyarakatnya sempit, maka masa depan daerah itu pun akan ikut menyempit. (**)

Pos terkait

banner 468x60