Penjilat-Penjilat Politik

Oleh : Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.)
Pengamat Sosial Politik

Lensa Pos NTB, OPINI – Menjelang musim Natal tahun 2007 yang sejuk, kami berenam—anggota Komite Perumusan Deklarasi Anak dan Pemuda ASEAN—kembali berkumpul di Filipina untuk melanjutkan pembahasan dan merumuskan Deklarasi ASEAN. Pengujung tahun yang terasa panjang dan melelahkan.

Subuh hari saya berangkat dari Soekarno-Hatta, transit di Changi, lalu melanjutkan perjalanan menuju Ninoy Aquino. Kami tengah menyiapkan draf yang berkaitan dengan agenda pembangunan bagi anak dan pemuda di kawasan ASEAN. Rencananya, pada Februari 2009 naskah itu akan kami sampaikan dalam KTT ASEAN di Thailand.

Selama tujuh hari penuh kami bekerja tanpa jeda di sebuah hotel mewah di tengah Mandaue City. Hari-hari yang terasa seperti maraton panjang: rapat, diskusi, revisi, lalu kembali berdebat hingga larut malam. Di sela-sela kepenatan suhu AC yang sangat dingin, percakapan kami beralih pada masa depan. Usia kami masih belasan tahun, usia ketika ambisi tumbuh dan terus menyala. Satu per satu kami membayangkan akan menjadi apa kelak: diplomat, aktivis, pemimpin masyarakat, bahkan pemimpin politik.

Salah satu teman saya dari sebuah negara ASEAN—sengaja tidak saya sebut asalnya, dengan pertimbangan sensivitas kultural dan geopolitik—yang kebetulan berdarah Yahudi dan mengklaim berideologi Zionis tiba-tiba menyeletuk, “I’m not really interested in going into practical politics. There are too many sycophants there. People can be very opportunistic.” Maksudnya kira-kira: dia tidak suka terjun ke politik praktis karena di sana para penjilat berkerumun. Mereka sangat oportunis. Saya tidak kaget dengan gayanya yang outspoken dan kaku. Karakter Yahudi memang begitu. Tanpa tedeng aling-aling, mereka langsung ke inti.

Pengalaman saya pada beberapa kesempatan bersama teman yang Yahudi membuat saya paham bahwa karakter baik dari mereka, yang tentu tidak disukai oleh banyak orang, adalah ambisius, kaku, bersemangat, dan tidak suka basa-basi.

To make the story short, dari sana dan sejak itu saya paham bahwa betapa penjilat-penjilat politik adalah hama yang membahayakan kepemimpinan di berbagai tingkatan. Mereka, para penjilat itu, adalah orang-orang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk bertahan hidup. Mereka mengobral-obral puja dan puji di sekitar kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan. Mereka mengobral sanjungan untuk mengamankan kepentingan dan perutnya. Bagi mereka, kekuasaan hanyalah ruang transaksi yang bisa dieksploitasi. Mereka tidak punya loyalitas. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki moral. Bagi mereka, loyalitas dan nilai tidaklah penting. Yang penting adalah obralan pujian yang bisa mereka jual kepada siapa saja yang sedang memegang kendali.

Bahaya pertama para penjilat sebenarnya justru menimpa pemimpin itu sendiri. Pemimpin yang dikelilingi oleh orang-orang seperti ini lambat laun kehilangan cermin yang jujur. Tidak ada lagi kritik menghilang. Tidak ada pengingat. Mau salah, mau benar tetap dipuji. Pemimpin merasa jumawa. Keputusan yang keliru tidak lagi dipertanyakan, melainkan dipoles dengan kata-kata manis agar tampak seolah-olah mereka, para penjilat ini mendukung. Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin bisa dengan mudah terperangkap dalam ilusi tentang dirinya sendiri: merasa selalu benar, selalu didukung, dan selalu berada di jalan yang tepat.

Padahal, yang terjadi hanyalah sikap buruk dan kebohongan. Bagi pemimpin yang gila hormat, pujian-pujian ini akan memabukkan. Tapi, bagi pemimpin yang tahu diri dan selalu mengingat bahwa kekuasaan adalah beban dan tanggung jawab pada rakyat, pujian para penjilat tidak akan membuat mereka goyah dan terpengaruh. Bagi rakyat, keberadaan para penjilat ini sama merusaknya. Mereka sering kali menjadi penyaring informasi yang tidak jujur antara pemimpin dan masyarakat. Keluhan rakyat diredam, kritik disembunyikan, dan realitas di lapangan disulap menjadi laporan yang menyenangkan telinga atasan. Memberi informasi Asal Bapak Senang (ABS) adalah ciri khas penjilat.

Akibatnya, kebijakan tidak lagi berpijak pada realitas dan kebutuhan masyarakat. Program-program dibuat berdasarkan persepsi yang sudah dimanipulasi. Ketika kebijakan itu gagal, yang menanggung akibatnya tentu saja rakyat yang sejak awal suaranya tidak pernah benar-benar sampai kepada pengambil keputusan.

Lebih jauh lagi, para penjilat merusak hubungan antara pemimpin dan rakyat. Hubungan yang seharusnya bersifat langsung, jujur, dan saling percaya berubah menjadi hubungan yang dimediasi oleh kepentingan. Pemimpin menjadi semakin jauh dari denyut kehidupan masyarakat, sementara rakyat merasa semakin tidak didengar. Dalam atmosfer dan ruang yang dipenuhi penjilat, tidak ada lagi komunikasi yang jujur. Pemimpin dan rakyatnya ada barrier. Kepercayaan publik, yang sebenarnya merupakan fondasi paling penting bagi kepemimpinan, perlahan-lahan terkikis tanpa disadari.

Lacurnya lagi, para penjilat sering mencitrakan dirinya sebagai orang paling loyal dan mendukung pemimpin. Mereka sering mengaku diri, “Kami ini die hard dari pemimpin kami.” Padahal itu omong kosong. Mereka selalu berada di barisan depan ketika memuji, membela, atau menyerang siapa pun yang dianggap lawan oleh sang pemimpin. Tetapi loyalitas mereka pada dasarnya rapuh. Ia tidak berdiri di atas prinsip, melainkan pada kedekatan dengan kekuasaan. Begitu arah angin berubah, mereka tidak ragu berpindah tempat, mencari gerbong baru yang sedang melaju lebih kencang.

Dalam sejarah politik di banyak negara, tipe manusia seperti ini hampir selalu muncul kembali, dengan wajah yang berbeda tetapi dengan pola perilaku yang sama. Karena itu, bagi seorang pemimpin, salah satu ujian terbesarnya adalah menjaga jarak dari para penjilat. Dibutuhkan keberanian dan ketegasan untuk menyingkirkan orang-orang yang hanya pandai memuji tanpa memberi nilai nyata. Tanpa itu, kekuasaan akan dengan mudah berubah menjadi instrumen yang tidak lagi memiliki makna pada rakyat.

Dan ketika seorang pemimpin akhirnya menyadari bahwa ia telah lama dikelilingi oleh para penjilat, sering kali semuanya sudah terlambat: keputusan-keputusan sudah terlanjur diambil, kepercayaan rakyat sudah terlanjur retak, dan kepemimpinan yang seharusnya menjadi kekuatan bagi masyarakat justru berubah menjadi beban bagi mereka yang dipimpin.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip kata-kata teman Yahudi saya itu ketika kami berpisah, “Fardian, it’s better to suffer than to be a sycophant. Never, ever be a sycophant.” Dia memberi saran pada saya, lebih baik menderita daripada menjilat. Terakhir kami berkomunikasi, dia sudah jadi pemimpin oposisi dan berjuang untuk rakyat di negara tersebut. (**)

Pos terkait

banner 468x60