Para Penjilat di Antara Dua Gerbong

Oleh : Andi Fardian, M.A., Ph.D. (Cand.)
Pengamat Sosial Politik

Lensa Pos NTB | OPINI – Salah satu hal yang paling menyakitkan bagi rakyat, selain pengkhianatan pemimpinnya, adalah ketika pasangan pemimpin mereka pecah gerbong. Rakyat tentu berharap pasangan pemimpinnya bersatu sampai finish masa jabatannya. Tapi, apalah daya, perbedaan kepentingan, hasrat, dan birahi kekuasaan membuat mereka harus berpisah di tengah jalan. Terkait ini, saya teringat kutipan dialog tokoh Colin Sullivan (diperankan oleh Matt Damon) dalam film The Departed, “I’m not the bad guy. I’m the guy who does his job. You must be the other guy.” Secara literal punya arti, “Aku bukan orang jahat. Aku adalah orang yang menjalankan pekerjaanku. Kamulah yang pasti orang yang satu lagi (orang jahat itu).” Tapi dalam konteks kekuasaan, kutipan tersebut memiliki makna yang relevan, bahwa tidak ada sedetik pun dari setiap orang yang terlibat dalam kekuasaan untuk tidak berpikir untuk menghabisi satu sama lain, kendati mereka terlihat bersatu di depan publik.

Mengapa ini sangat menyakitkan bagi rakyat? Karena mereka menaruh harapan yang sangat tinggi pada pemimpin mereka, tetapi justru terdistraksi dengan baku hantam untuk merebut posisi puncak. Aspirasi rakyatlah yang dikorbankan dari konflik kepentingan ini. Tapi memang begitulah tidak tahu dirinya pemimpin yang tidak amanah; mereka tidak peduli kepentingan rakyat. Sebaliknya, mereka memanfaatkan dan mengeksploitasi kepentingan rakyat untuk melanggengkan kekuasaan. Itu sudah sering saya sampaikan pada tulisan lain. Kali ini saya mau menulis keberadaan dan peran para penjilat di antara dua gerbong.

Pada penjilat dalam konteks kekuasaan dan politik adalah mereka yang tidak memiliki kemampuan dan kompetensi apa pun, tetapi memanfaatkan setiap situasi untuk menempel pada penguasa dengan harapan mereka kecipratan remahan kekuasaan yang menguntungkan perut mereka. Mereka sama sekali tidak punya loyalitas yang bisa diandalkan. Beda musim, beda arah angin, beda juga arah dukungan mereka. Tergantung basah atau tidaknya musim. Mereka juga tidak punya integritas yang bisa dipertimbangkan. Mereka hanya memiliki kemampuan untuk menjilat dan memberi pujian setinggi langit dan penguasa. Salah-benar atau zalim-amanahnya pemimpin tidak mereka pedulikan. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah terus memuji dan memuji. Mereka juga sering mencitrakan diri sebagai pembela penguasa tanpa mempertimbangkan aspek-aspek objektif. “Inilah kami die hard dari pemimpin kami,” kata mereka. Padahal itu omong kosong. Apakah pemimpin itu amoral, tidak amanah, atau zalim, mereka akan tetap membela. Salah benarnya pemimpin, mereka memasang badan. Para penjilat adalah mereka yang tidak memiliki apa-apa, kecuali keterampilan menjilatnya itu.

Dalam konteks retaknya hubungan dua pemimpin, para penjilat ini sering berperan dalam menciptakan keretakan itu. Tercipatlah dua gerbong. Bagi pemimpin yang tidak memiliki kemampuan mendengar hati nurani akan mudah terbuai dengan jilatan itu. Tapi, kalau pemimpinnya memiliki kemampuan untuk fokus dan integritas untuk memberi yang terbaik bagi rakyat, ia tidak akan mudah terpengaruh dengan jilatan-jilatan. Ia juga tidak akan mudah terpengaruh untuk pecah gerbong dengan pasangannya, dan terus bekerja keras untuk menjalankan roda kepemimpinan.

Ketika gerbon pecah, masing-masing pemimpin akan menjaga gerbongnya. Dan, dalam masing-masing gerbong ada potensi muncul penjilat. Di titik inilah para penjilat menemukan panggung terbaiknya. Mereka sangat oportunis. Mereka pandai melihat peluang. Mereka tidak lagi sekadar memuji, tetapi mulai membaca arah angin dengan sangat cermat. Mereka menghitung siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berpeluang menang di eleksi selanjutnya, lalu diam-diam menggeser posisi. Di depan publik mereka bisa tampak setia, tetapi di belakang mereka menyiapkan kaki untuk melompat. Mereka menunjukkan diri seolah-olah mereka memberikani loyalitas tanpa reverse. Kesetiaan bagi mereka bukan soal nilai, melainkan soal momentum. Siapa yang naik, mereka dekati. Siapa yang turun, mereka tinggalkan tanpa rasa bersalah.

Lebih berbahaya lagi, para penjilat ini sering menjadi bensin dalam konflik dua gerbong. Mereka menyampaikan informasi yang dipelintir, membisikkan kecurigaan, dan memperbesar jarak yang sebenarnya masih bisa dijembatani. Apa yang awalnya hanya perbedaan pandangan bisa berubah menjadi permusuhan terbuka karena bisikan-bisikan yang tidak bertanggung jawab. Mereka tidak peduli apakah hubungan itu masih bisa diperbaiki. Bagi mereka, konflik justru membuka lebih banyak ruang untuk menunjukkan diri dan mendapatkan posisi.

Sementara itu, rakyat hanya menjadi penonton yang dipaksa menyaksikan drama baku hantam itu. Energi yang seharusnya digunakan untuk bekerja dan melayani justru habis untuk saling menjatuhkan. Program terhenti, kebijakan mandek, dan arah pembangunan menjadi kabur. Di tengah kekacauan itu, para penjilat tetap sibuk memainkan perannya, seolah tidak ada yang salah. Mereka tetap memuji, dan tetap mencari celah untuk bertahan di lingkaran kekuasaan.

Pada akhirnya, pecahnya dua gerbong bukan hanya soal berpisahnya dua pemimpin, tetapi juga tentang terbukanya ruang bagi orang-orang tanpa integritas untuk semakin berkuasa secara tidak langsung. Selama budaya menjilat ini terus dipelihara, selama itu pula konflik akan mudah diciptakan dan dipelihara. Dan selama itu pula rakyat akan terus menjadi pihak yang paling dirugikan, menyaksikan pemimpinnya sibuk bertarung, sementara para penjilat menikmati remah-remah yang jatuh dari meja kekuasaan.

Tapi kuncinya hanya satu. Apa? Pemimpinnya harus kuat untuk tidak tergoda dengan bisikan penjilat-penjilat ini. Tapi, kalau tergoda, ya, game over. Di daerah Anda, ada penjilat-penjilat di sekitar kekuasaan?. (**)

Pos terkait

banner 468x60