NTB Episentrum Energi Hijau Menuju Net Zero Emission 2050 (Menakar Strategi, Tantangan, dan Keadilan dalam Transisi Energi Kepulauan)

Oleh: Miharza Irfandi (Mahasiswa Magister Teknik Sistem UGM)

Pendahuluan: Ambisi Melampaui Batas Nasional
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memposisikan dirinya sebagai pelopor energi transisi di Indonesia. Di tengah komitmen nasional untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, NTB secara progresif menetapkan target yang lebih ambisius, yakni mencapai NZE pada tahun 2050.

Deklarasi ini, yang pertama kali disampaikan pada forum COP26 di Glasgow, bukan sekadar janji politik, melainkan visi strategi untuk mengubah ketergantungan energi fosil menjadi kemandirian berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Visi ini didasarkan pada kesadaran bahwa sebagai wilayah kepulauan, NTB sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan gangguan rantai pasok energi fosil. Dengan dukungan mitra internasional seperti ICLEI melalui proyek 100% Renewables Cities and Regions Roadmap, NTB kini memiliki peta jalan teknis yang komprehensif untuk mentransformasi lanskap energinya secara menyeluruh.

Profil Energi Saat Ini:
Fondasi dan Tantangan

NTB memulai perjalanan ini dari titik yang cukup kuat namun tetap menantang. Hingga tahun 2023, bauran EBT di NTB telah mencapai 22,43%, melampaui target tahunan sebesar 19%. Meski demikian, beberapa isu struktural masih membayangi:

Sektor Ketenagalistrikan: Sistem kelistrikan NTB masih sangat bergantung pada PLTU batu bara dan PLTD. Terdapat 94unit genset PLTD dengan total kapasitas 168 MW yang mencakup hampir 30% dari total pembangkitan.

Akses Energi: Rasio elektrifikasi NTB mencapai angka luar biasa sebesar 99,98% pada tahun 2022. Namun, tantangan nyata terletak pada kualitas pasokan di pulau-pulau kecil (Gili) yang masih mengandalkan generator diesel yang mahal dan tidak efisien.

Konsumsi Energi: Dengan konsumsi listrik per kapita sebesar 465 kWh, sektor rumah tangga masih menjadi konsumen terbesar. Industrialisasi yang berkembang di masa depan diprediksi akan memicu permintaan energi secara signifikan.

Kekayaan Potensi: Lumbung EBT di Timur Indonesia. NTB memiliki diversitas potensi EBT yang berlimpah di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Strategi utama dalam peta jalan ini adalah mengoptimalkan potensi tersebut melalui sistem yang terinterkoneksi.

Energi Surya dan Bayu: Energi surya adalah tulang punggung transisi NTB melalui pembangunan PLTS skala besar maupun PLTS Atap. Pulau Sumbawa juga memiliki potensi energi bayu (angin) yang stabil serta lahan kering luas yang ideal untuk turbin angin skala besar.

Biomassa dan Biogas: Sektor pertanian dan peternakan NTB menyediakan modal besar bagi pengembangan biogas di perdesaan untuk meningkatkan kemandirian energi desa. Selain itu, strategi co-firing (substitusi batu bara dengan biomassa) pada PLTU menjadi langkah transisi krusial sebelum fase pemadaman total pembangkitan fosil.

Interkoneksi Lombok-Sumbawa: Skenario utama yang diusung adalah interkoneksi kabel bawah laut antara Pulau Lombok dan Sumbawa pada tahun 2050 untuk meningkatkan stabilitas jaringan dan pemerataan distribusi daya dari sumber EBT.

Peta Jalan Strategis: Milestone Menuju 2050
Peta jalan NTB membagi fase transisi menjadi tiga tahapan panjangnya: 2025–2030: Fokus pada akses listrik 24 jam yang andal bagi seluruh rumah tangga, termasuk di pulau terluar, serta penghentian operasional PLTD secara bertahap.
2035: Pencapaian target antara di mana 50% bauran energi sistem ketenagalistrikan berasal dari EBT. Di sektor industri, 50% bangunan wajib mengoperasikan PLTS Atap.

2040–2050: Seluruh PLTU batu bara harus menerapkan 100% biomassa atau dihentikan sepenuhnya. Puncaknya pada tahun 2050, NTB menargetkan 100% energi terbarukan di seluruh sektor.

Pilar Aksi dan Transformasi Sektoral
Pemerintah NTB menetapkan lima pilar aksi utama: Dekarbonisasi Ketenagalistrikan: Mengganti bahan bakar fosil dengan EBT dan memperkuat transmisi untuk menyerap energi intermiten (surya/angin).

Elektrifikasi Transportasi: Mendorong penggunaan kendaraan listrik dan pengembangan Electric Zero Emission Bus Rapid Transit (E-ZEBRT). Hilirisasi Industri Hijau: Mewajibkan sertifikasi industri hijau dan penggunaan energi bersih seperti Bio-CNG dan hidrogen.

Kemandirian Energi Desa: Optimalisasi dana desa untuk infrastruktur energi lokal seperti biogas komunal. Inovasi Pembiayaan: Menerangkan skema KPBU, Green Bonds dan insentif pajak untuk menarik investasi swasta.

Tantangan dan Mitigasi
Transisi ini menghadapi tantangan nyata: intermitensi energi surya/angin yang membutuhkan teknologi baterai (BESS), emisi data radiasi cuaca lokal, serta kapabilitas fiskal daerah yang memerlukan dukungan pendanaan internasional agar tidak membebani perekonomian lokal.

Dampak Sosial Ekonomi: Keadilan Energi
Transisi ini harus menjamin prinsip keadilan. Manfaat yang diharapkan meliputi peningkatan kualitas kesehatan akibat udara yang lebih bersih, pembukaan lapangan kerja hijau di sektor instalasi EBT, serta kesetaraan akses energi bagi masyarakat yang berpendapat rendah di pelosok desa.

Penutup: Menjadi Suar Bagi Dunia
Nusa Tenggara Barat sedang membuktikan bahwa status sebagai daerah kepulauan bukanlah penghalang untuk melakukan perubahan sistemik yang berdampak global. Dengan mengimplementasikan strategi transisi energi yang komprehensif, NTB tidak hanya bertransformasi menjadi wilayah berketahanan iklim, tetapi juga memposisikan diri sebagai laboratorium kehidupan bagi transisi energi berkelanjutan. Keberhasilan NTB akan menjadi bukti nyata bagi wilayah kepulauan lain di seluruh dunia bahwa masa depan yang bersih, mandiri, dan hijau dapat diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor, data yang akurat, serta kemauan politik yang tak tergoyahkan. (**)

Pos terkait

banner 468x60