Surat untuk Rektor Universitas Mataram

Oleh: Andi Fardian – Alumni Universitas Mataram

Lensa Pos NTB, OPINI – PAK REKTOR, yth, saya ingin memulai surat ini dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin Universitas Mataram (Unram) mendunia dan menginternasional, kalau mahasiswa yang menonton film saja mendapatkan sikap kontra.” Ini dulu yang harus kita perbaiki sebelum urusan mendunia itu menjadi fokus dan prioritas.

Cuplikan perkataan wakil rektor kampus S1 saya yang mengatakan (kurang lebih verbatim-nya), “Saya/kami hanya menjalankan perintah” membuat saya agak miris. Ia seharusnya ingat posisi utamanya sebagai akademisi dan intelektual yang tetap menjaga sikap kritis, objektif, dan netral. Saya tidak masuk pada siapa yang salah dan benar, tapi dalam konteks ini seharusnya hanya sekadar menonton film dokumenter, ya, dibiarkan saja.

Kampus seharusnya tetap menjadi tempat yang steril dari berbagai kepentingan, termasuk feodalisme dan pengekangan terhadap kebebasan berekspresi. Biarkan saja segala perdebatan, dialektika, dan diskursus berkembang. Namanya juga kampus; tempatnya berbaku hantam dalam ide dan gagasan. Masak, takut pada mahasiswa yang hanya menonton film yang mengkritik pemerintahnya. Kalau mahasiswa sedikit-sedikit dibatasi kebebasannya, mereka tidak akan pintar, dan kelak menjadi lulusan yang begitu-begitu saja. Sudahlah. Biarkan saja. Toh, mereka hanya menonton film dokumenter.

Realitasnya, pada konteks yang lebih luas, tidak sedikit akademisi dan intelektual hari ini yang tidak lagi kritis, objektif, dan netral. Apalagi kalau sudah memegang jabatan atau posisi tertentu. Ketua jurusan takut pada dekan. Wakil dekan tunduk pada dekan. Ketua lembaga penelitian takut pada rektor. Dekan segan pada wakil rektor. Wakil rektor tunduk pada perintah rektor. Rektor takut ditegur menteri. Ketua senat? Kurang lebih sebelas duabelas. Menteri takut pada?

Seharusnya feodalisme tidak dipelihara di kampus-kampus. Karena itu bertentangan dan menjadi musuh terbesar bagi tumbuhnya atmosfer kampus yang kritis, ilmiah, dan objektif. Dalam konteks Unram, bagaimana mungkin kampus tercinta ini mau dibawa mendunia, seperti visi-misi Bapak (koreksi, jika salah), kalau mahasiswa menonton saja dibatasi.

Sepintar apa pun orang, kalau sudah masuk dalam kekuasaan, kemerdekaannya pasti terbelenggu. Jadi, bersyukurlah orang-orang yang tidak memegang jabatan apa pun. Tuhan berarti sedang menyelamatkannya dari penjara dan kerangkeng atas kemerdekaan dan kebebasan hidup. Tapi, saya berharap Pak Rektor dan para Warek tidak terbelenggu kemerdekaannya.

Sudahlah Pak Rektor dan Warek Unram. Biarkan saja anak-anak itu menonton, mengkritik, berteriak, berdebat, dan berdialektika terhadap pemerintah-nya. Kalau bisa fasilitasi mereka ruangan, makanan, dan minuman. Biarkan anak-anak ini belajar.

Saya mengerti posisi Bapak dan para warek mungkin terjepit . Bapak-bapak tahu bahwa kampus memang harus steril, tapi di sisi lain, Bapak-bapak memegang jabatan yang katanya saja independen, tanpa intervensi, dan kuat, tapi penuh pengawasan dan kontrol dari atas. Tapi ingatlah, kalau terus-terusan seperti ini, kampus kita tercinta hanya akan menghasilkan lulusan yang tidak punya jiwa dan daya kritis. Tidak ada gunanya ratusan yang cum laude setiap tahun, tapi tidak punya empati pada penderitaan rakyat. Salam Hormat dari Yogyakarta, Alumnus Unram angkatan 2009, lulus 2014 – Andi Fardian NIM: E1D009040

Pos terkait

banner 468x60